Tingginya Angka Kecemasan di Kalangan Pekerja: Isu Anxiety yang Mendesak!

BITVonline.com - Jumat, 11 Oktober 2024 06:55 WIB

BITVONLINE.COM –Belakangan ini, kecemasan atau anxiety menjadi isu kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan pekerja. Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh ComPsych, layanan kesehatan mental terkemuka di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa angka kecemasan di tempat kerja melampaui depresi sebagai masalah terbesar yang dihadapi oleh para karyawan.

Studi yang dilakukan sepanjang tahun 2023 tersebut melibatkan analisis terhadap data dari 300 ribu pekerja yang mencari bantuan kesehatan mental. Hasilnya menunjukkan bahwa 24 persen dari mereka, atau sekitar 72 ribu pekerja, mengalami kecemasan. Ini menjadikan kecemasan sebagai masalah mental paling dominan yang dihadapi karyawan AS, jauh di atas masalah lainnya seperti depresi, stres, dan isu hubungan personal.

Richard Chaifetz, CEO ComPsych, menjelaskan bahwa peningkatan angka kecemasan ini sejalan dengan situasi global yang penuh ketidakpastian. “Mulai dari pandemi yang berkepanjangan hingga konflik yang berlangsung di Gaza dan Ukraina, ditambah dengan kondisi perekonomian yang tak menentu dan polarisasi politik menjelang pemilu, semua ini menciptakan suasana yang mencekam,” ungkapnya.

Laporan lain dari ComPsych menunjukkan bahwa cuti terkait kesehatan mental yang diambil oleh pekerja mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2023, terdapat kenaikan sebesar 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, cuti kesehatan mental meningkat 300 persen antara tahun 2017 hingga 2023, dengan sebagian besar diambil oleh perempuan, khususnya perempuan generasi milenial.

Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

Melihat tingginya angka kecemasan, kesehatan mental di tempat kerja menjadi perhatian yang tak bisa diabaikan. Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day 2024 mengusung tema “Mental Health at Work,” menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang sehat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa lingkungan kerja yang toksik dapat memperburuk kesehatan mental karyawan. Stigma, diskriminasi, kondisi kerja yang buruk, hingga pelecehan dan kekerasan merupakan beberapa faktor yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental. WHO mengajak pemerintah, perusahaan, aliansi pekerja, dan semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.

Kesehatan mental yang buruk di tempat kerja tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga berdampak pada produktivitas dan kualitas kerja. “Sekitar 60 persen populasi dunia adalah pekerja, sehingga langkah-langkah mendesak diperlukan untuk melindungi dan mendukung kesehatan mental di lingkungan kerja,” kata WHO.

Dengan meningkatnya angka kecemasan di kalangan pekerja, penting bagi perusahaan untuk mengambil tindakan nyata dalam mendukung kesehatan mental karyawan. Program-program kesehatan mental yang komprehensif, lingkungan kerja yang inklusif, serta dukungan dari manajemen dapat menjadi langkah awal untuk mencegah dan mengatasi isu kesehatan mental di tempat kerja. Ke depan, perhatian terhadap kesehatan mental tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup para pekerja, tetapi juga berkontribusi pada kinerja dan produktivitas perusahaan secara keseluruhan.

(N/014)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Sosok

Bupati Simalungun Temui Menteri Pertanian, Dapat Dukungan Bibit untuk 22.000 Hektar Sawah Baru

Sosok

TMMD ke-127 Kodim 0207/Simalungun Resmi Ditutup, Sinergi TNI dan Warga Dorong Pembangunan Desa

Sosok

Fans PSMS Kritisi Lambatnya Pembangunan Stadion Teladan, Bobby Nasution Bisa Ambil Alih

Sosok

WakaPolda Aceh Pimpin Apel Operasi Ketupat 2026 untuk Amankan Mudik Lebaran

Sosok

RI Masih Tergantung Impor Minyak, Pemerintah Pastikan Pasokan BBM Aman

Sosok

Proses Hukum Yaqut Cholil Qoumas: KPK Lengkapi Bukti Sebelum Penahanan