MEDAN — Warga Sumatera Utara, khususnya masyarakat Kota Medan, tentu sudah tidak asing dengan nama TB Simatupang.
Nama tersebut menjadi salah satu ruas jalan yang cukup dikenal di kawasan Medan Sunggal, mulai dari Terminal Pinang Baris hingga persimpangan Jalan Sunggal dengan PDAM Tirtanadi.
Namun, TB Simatupang bukan sekadar nama jalan.
Baca Juga: TNI Jadi Sopir Truk BBM di Sumut, Istana Buka Suara Di balik nama tersebut terdapat sosok besar dalam sejarah Indonesia.
Ia adalah salah satu tokoh militer nasional yang dikenal sebagai jenderal intelektual karena memiliki pemikiran maju mengenai profesionalisme tentara dan pembangunan institusi pertahanan.
TB Simatupang merupakan singkatan dari Tahi Bonar Simatupang, seorang putra daerah Sumatera Utara yang lahir di Sidikalang, Kabupaten Dairi, pada 28 Januari 1920.
Ia berasal dari keluarga Batak Toba yang menjunjung tinggi pendidikan.
Ayahnya, Mangaradja Soaduon Simatupang, merupakan pegawai pemerintahan pada masa Hindia Belanda.
Lingkungan keluarga tersebut membentuk TB Simatupang menjadi sosok yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan.
Sejak muda, TB Simatupang mendapatkan pendidikan di sekolah Belanda sebelum melanjutkan ke Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Bandung, sebuah akademi militer yang didirikan pemerintah kolonial Belanda.
Namun, pendidikannya tidak selesai karena situasi perang dunia dan masuknya Jepang ke Indonesia pada 1942.
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, TB Simatupang memilih bergabung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.