BATU BARA – Sebuah kisah penuh haru, perjuangan, dan inspirasi datang dari putra pesisir Kabupaten Batu Bara, Muhammad Zein Damanik, yang resmi menyandang gelar Doktor (S3) setelah melewati perjalanan panjang dunia pendidikan.
Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan sosok ayah sederhana namun luar biasa yang menjadi sumber kekuatan, motivasi, dan teladan hidup bagi keluarga.
Berasal dari keluarga sederhana dengan akar dari Kabupaten Simalungun yang kemudian menetap di Kabupaten Batu Bara, sang ayah bukan hanya menjadi kepala keluarga, tetapi juga guru kehidupan yang istiqomah, penuh kasih sayang, dan setia mendampingi istri serta anak-anaknya dalam setiap proses kehidupan.
Baca Juga: Ketua KI Pusat Sentil Kampus soal Transparansi: Kalau Bersih Kenapa Harus Risih Bagi Muhammad Zein Damanik, sosok ayah adalah figur tangguh yang tak pernah lelah menanamkan pentingnya ilmu pengetahuan dan akhlak kepada kelima anaknya.
"Ayah bukan sekadar orang tua bagi kami. Beliau adalah guru yang saleh dan istiqomah, yang selalu mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan generasi beradab dan bermanfaat bagi sesama," ungkapnya penuh haru.
Sejak kecil hingga berhasil menempuh pendidikan doktoral, sang ayah terus mendampingi dan mendoakan anak-anaknya agar mencintai ilmu pengetahuan.
Nasihat yang paling membekas adalah pesan agar pendidikan tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga membentuk akhlak dan kebermanfaatan hidup.
Menurutnya, sang ayah selalu mengingatkan tentang pentingnya ilmu yang bermanfaat sebagai amal yang tidak terputus meskipun manusia telah meninggal dunia.
Perjalanan menuju gelar Doktor bukanlah hal mudah. Dibutuhkan perjuangan panjang, pengorbanan, serta dukungan besar dari keluarga dan orang-orang tercinta.
Momentum wisuda S3 yang berlangsung pada 7 Mei 2026 itu menjadi bukti bahwa anak daerah dari pesisir Batu Bara juga mampu menembus pendidikan tertinggi dan menjadi inspirasi bagi generasi muda.
Dalam ungkapan rasa syukurnya, Muhammad Zein Damanik turut menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua, mertua, istri, keluarga, dosen, staf kampus, hingga sahabat seperjuangan yang telah membantu selama proses pendidikan.
Ia juga menyampaikan rasa cintanya kepada sang buah hati tercinta, Muhammad Ammar Zain Damanik, yang menjadi semangat dalam menyelesaikan pendidikan doktoralnya.