JAKARTA – Duka mendalam menyelimuti jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) atas gugurnya tiga prajurit yang tergabung dalam Satgas UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Lebanon.
Mereka adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan yang tewas dalam insiden yang terjadi dalam dua hari terakhir.
Praka Farizal Rhomadhon: Pengabdian yang Terganggu oleh Tembakan Artileri Baca Juga: Israel Tolak Bertanggung Jawab atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon Praka Farizal Rhomadhon (28), prajurit dari Yonif 113/Jaya Sakti, Brigade Infanteri 25/Siwah, Kodam Iskandar Muda, Aceh, gugur setelah terkena tembakan artileri pada Minggu, 29 Maret 2026 di Adchit El Qousair, Lebanon Selatan.
Farizal yang berangkat ke Lebanon pada April 2025 sebagai bagian dari Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL, meninggalkan seorang istri dan anak berusia dua tahun.
Ibu Farizal, Supinah, menyampaikan bahwa anaknya seharusnya selesai tugas pada April mendatang, dengan tiket kepulangan yang telah dijadwalkan pada Mei.
Farizal, yang telah menjalani setahun pengabdian di tanah perantauan, menjadi salah satu simbol pengorbanan prajurit TNI yang tak mengenal lelah dalam menjaga perdamaian dunia.
Kapten Zulmi Aditya Iskandar: Perwira Kopassus yang Terjatuh di Medan Perang
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar (34), seorang perwira dari Grup 2 Komando Pasukan Khusus (Kopassus), turut gugur pada Senin, 30 Maret 2026.
Zulmi adalah Komandan Kompi Task Force dalam Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang bertanggung jawab atas pengawalan logistik dan operasi mobile reserve di wilayah rawan konflik di Lebanon Selatan.
Zulmi dikenal sebagai seorang prajurit yang memiliki dedikasi tinggi, mengabdikan diri setelah lulus dari Akademi Militer Magelang pada 2015.
Selain latar belakang militernya yang cemerlang, ia juga memiliki pendidikan Diploma IV Manajemen Pertahanan yang menunjang tugas-tugas pentingnya dalam misi perdamaian internasional.