JAKARTA – Suasana haru menyelimuti Balairung Mahkamah Agung Republik Indonesia saat Ajeng Siti Wahyuni, S.M., perempuan asal Sukabumi yang bertugas sebagai Penata Layanan Operasional di Pengadilan Negeri Wangi Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menerima penghargaan juara kedua Lomba Foto Peradilan 2025.
Tangannya gemetar, suara bergetar, dan air mata tak tertahan saat lagu Himne Mahkamah Agung dikumandangkan.
"MasyaAllah, saya masih gemetar. Saat menyanyikan Himne Mahkamah Agung, saya menangis. Tidak menyangka pemenang lomba bisa diundang ke sini, bahkan orang tua saya ikut hadir," ujar Ajeng dengan penuh haru.
Baca Juga: Zainal Arifin Mochtar, Dosen UGM dan Aktivis Antikorupsi yang Mendapat Teror dan Ancaman Telepon Ajeng, yang baru serius menekuni fotografi menggunakan telepon genggam sejak tahun lalu, mengirim satu karya yang menangkap momen hening sebelum persidangan: doa bersama lintas keyakinan oleh para hakim dan panitera pengganti.
Foto tersebut berjudul "Berbeda Iman, Satu Nurani: Berdoa untuk Keadilan", yang merefleksikan nilai toleransi, integritas, dan independensi yudisial di balik ruang sidang.
"Doa-doa itu berbaur menjadi satu. Tidak ada batas agama, hanya satu suara batin yang sama, memohon agar setiap keputusan membawa kepastian hukum, kebermanfaatan, dan keadilan bagi sesama," kata Ajeng.
Perjalanan Ajeng menuju Jakarta tidak mudah. Ia menempuh perjalanan darat dan laut selama delapan jam dari Wakatobi ke Kendari, dilanjutkan penerbangan ke Jakarta.
Semua perjuangan itu terbayar saat karyanya mendapat apresiasi tinggi dari Mahkamah Agung.
Selain Ajeng, keluarga, rekan kerja di PN Wangi Wangi, hingga pimpinan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara hadir memberikan dukungan.
Pengalaman ini tidak hanya menjadi penghargaan pribadi, tetapi juga pengingat bagi masyarakat dan aparat peradilan bahwa keadilan sejati tidak memandang ras maupun agama.
Ajeng berharap fotonya bisa menjadi simbol bagi seluruh jajaran peradilan dan masyarakat bahwa integritas, toleransi, dan keberpihakan pada hukum menjadi fondasi keadilan di Indonesia.*