DENPASAR - Di balik seragam dan tugas negara yang dijalankan dengan penuh dedikasi, terselip kisah inspiratif dari seorang polwan bernama
Aipda Putu Eka Purnawyanti, S.H. Sosoknya selama ini dikenal sebagai pribadi sederhana, pekerja keras, penuh kasih sayang, serta seorang ibu tangguh dan pecinta hewan.Putri sulung dari Ipda (Purn) I Ketut Ruja ini memegang teguh pesan sang ayah, "Jadilah Polri yang profesional dan suka menolong." Semangat itulah yang terus menjadi kompas dalam 23 tahun masa dinasnya di kepolisian, mulai dari menjadi Spri Kapolres Gianyar, hingga belasan tahun berdinas di Satintelkam Polres Gianyar, dan kini bertugas di Paminal Polda Bali.
?️ Tuduhan Tak Berdasar Cemari Nama Baik Baca Juga: Aksi Damai di Mapolda Aceh, Kapolda: Ini Adalah Wujud Demokrasi yang Sehat Namun, jalan hidupnya yang selama ini bersih dari pelanggaran ternoda oleh sebuah tuduhan intimidasi terhadap wartawan yang dengan cepat viral di sejumlah media. Ia dituding melakukan tindakan tidak pantas terhadap Andre Sulla, wartawan Radar Bali. Anehnya, dari informasi yang beredar, konflik utama justru terjadi antara Andre dengan sosok lain bernama Dede, namun Putu Eka yang justru menjadi sasaran pemberitaan negatif.
⚖️ Pengamat: Penyidikan Sarat KepentinganBagio, S.H., M.H., seorang pengamat hukum, menyebutkan bahwa proses penyelidikan oleh Unit 3 Paminal Propam Polda Bali terkesan terburu-buru dan tidak membuka ruang mediasi. Ia bahkan menduga adanya unsur kebencian atau kepentingan politik yang membayangi kasus tersebut.Menariknya, saat Dede mencoba mengklarifikasi langsung kepada Andre Sulla, kontaknya malah diblokir – sebuah tindakan yang dinilai mencoreng etik profesionalisme jurnalis.