MEDAN - Tanggal 6 September 2025 menandai 25 tahun kepergian Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, salah satu tokoh nasional terkemuka yang lahir dari bumi Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Sosok yang dikenang atas peran besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan sistem militer Indonesia ini meninggalkan jejak yang panjang dan penuh makna bagi sejarah bangsa.
Profil Singkat AH Nasution
Lahir pada 3 Desember 1918 di Hutapungkut, Mandailing Natal, AH Nasution tumbuh dalam keluarga pedagang tekstil yang sederhana.
Berbekal pendidikan di berbagai sekolah guru dan kecintaan terhadap ilmu sejarah dan tanah air, ia menapaki karier yang awalnya berakar dari dunia pendidikan hingga akhirnya mengabdikan dirinya di ranah militer.
Jejak Perjuangan dan Karier Militer
AH Nasution mengawali karier militernya di masa penjajahan Jepang dengan menjadi siswa CORO di Bandung, sebelum akhirnya terlibat aktif dalam pembentukan tentara nasional di era kemerdekaan.
Ia pernah menjabat sebagai Panglima Divisi III/Tri Siliwangi serta Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) kedua, dan turut menjadi arsitek penting dalam pengembangan militer Indonesia pasca-kemerdekaan.
Peristiwa bersejarah 17 Oktober 1952 menjadi salah satu babak penting dalam hidupnya, di mana AH Nasution harus mengundurkan diri dari jabatan KSAD karena tanggung jawab politik dan militer, namun kemudian kembali aktif dalam berbagai posisi strategis hingga pensiun pada awal 1970-an.
Pengaruh dan Warisan
Selain kiprahnya di bidang militer, AH Nasution juga aktif di bidang politik dan organisasi kemasyarakatan.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan anggota Dewan Kehormatan, memperlihatkan perannya yang tidak hanya terbatas pada dunia militer tetapi juga politik nasional.