MEDAN – Awal tahun 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data mengejutkan soal suku-suku di Indonesia yang paling banyak mencetak sarjana.
Hasilnya, Suku Batak menempati posisi teratas dengan kontribusi 18,02 persen dari total sarjana nasional, disusul Suku Minangkabau 18 persen dan Suku Bali 14,54 persen.
Data ini menunjukkan bagaimana paradigma pendidikan menjadi prioritas utama dalam kultur keluarga Batak.
Tidak mengherankan jika banyak tokoh nasional, terutama di bidang hukum dan peradilan, berasal dari suku ini.
Salah satu tokoh besar yang patut dikenang adalah Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution – begawan hukum, tokoh kemerdekaan, dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Jejak Sang Begawan Hukum
Meski berdarah Batak Mandailing, Amin Nasution lahir di Lhok Ngah, Aceh Besar pada 22 Februari 1904.
Perjalanan hidupnya merefleksikan komitmen kuat terhadap pendidikan dan perjuangan kemerdekaan.
Mengenyam pendidikan di berbagai kota, Amin Nasution akhirnya menamatkan studi hukum di Rechtschoogeschool Batavia dan meraih gelar bergengsi Meester in de Rechten (Mr).
Aktif dalam organisasi pergerakan pemuda, Amin turut mendeklarasikan Sumpah Pemuda 1928.
Ia menolak menjadi birokrat kolonial dan memilih menjadi advokat rakyat di Kutaradja (kini Banda Aceh).
Selama pendudukan Jepang, ia dipercaya sebagai hakim dan kepala sekolah, tempatnya menanamkan semangat nasionalisme pada generasi muda Aceh.