JAKARTA – Perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day yang jatuh pada 14 Februari selalu menjadi topik hangat, baik di dunia barat maupun Indonesia. Di Indonesia, perayaan ini kerap dilakukan oleh kalangan muda, termasuk pelajar dan mahasiswa, dengan memberikan bunga atau cokelat kepada pasangan. Namun, ulama kondang Prof. KH. Yahya Zainul Ma'arif, atau yang lebih dikenal dengan Buya Yahya, menyampaikan pandangannya bahwa Valentine Day sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
Dalam ceramahnya, Buya Yahya menjelaskan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan adanya perayaan khusus untuk hari kasih sayang. Menurutnya, Islam mengajarkan kasih sayang setiap saat, bukan hanya pada tanggal 14 Februari. Buya Yahya menegaskan bahwa mengikuti perayaan Valentine Day dapat mengarah pada kekafiran, sebab perayaan tersebut bukanlah budaya yang diperkenalkan oleh Rasulullah SAW. Bahkan, menurut Buya Yahya, merayakan Valentine Day yang berasal dari tradisi non-Islam dapat mengagungkan tokoh-tokoh kafir, yang pada gilirannya dapat menggoyahkan iman seseorang.
"Jika seseorang terlibat dalam perayaan yang tidak ada kaitannya dengan Islam, apalagi sampai mengagungkan tokoh kafir, maka perlahan bisa merusak nilai-nilai keimanan dan keislaman," ujar Buya Yahya, seperti yang dilansir dari kanal YouTube Al-Bahjah TV.
Ia juga memperingatkan agar umat Islam berhati-hati dalam ikut-ikutan merayakan Valentine Day. Meskipun perayaan ini tidak langsung menjadikan seseorang kafir, mendekatkan diri dengan budaya non-Islam berisiko menggeser keyakinan yang telah dianut. "Akan tetapi, mengagungkan syiar orang kafir bisa memengaruhi hati dan bisa mengarah pada kekafiran," tambah Buya Yahya.