SAMOSIR – Di perbukitan Sianjur Mula Mula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, berdiri sebuah rumah berdinding tanah yang disebut telah diwariskan lintas generasi selama ratusan tahun. Rumah yang berada di pintu masuk Air Terjun Naisogop itu kini dihuni Opung Sagala, seorang nenek yang mengaku telah berusia lebih dari satu abad.
Rumah tersebut sempat menarik perhatian warganet setelah ramai dibicarakan di media sosial sebagai salah satu rumah tanah tertua di Samosir. Di tengah kunjungan wisatawan yang datang untuk melihat keunikannya, Opung Sagala tetap menjalani keseharian di rumah peninggalan leluhurnya.
Opung Sagala menuturkan, rumah yang ditempatinya telah diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Ia memperkirakan usia rumah tersebut mencapai sekitar 580 tahun, jauh sebelum masa kedatangan Belanda menurut ingatannya.
Baca Juga: Dituntut 4 Tahun Penjara, Eks Kadinsos Samosir Minta Bebas dan Ungkit Terdakwa Lain Tak Ditahan "Rumah ini umurnya 580 tahun. Zaman dulu, sebelum Belanda datang, rumah ini sudah ada. Aku ingat itu, aku tidak tahu baca tulis. Jadi sebelum ada perang, rumah ini sudah ada," tuturnya.
Salah satu keunikan rumah tersebut terletak pada material dindingnya. Menurut cerita Opung Sagala, leluhurnya menggunakan tanah dan jerami padi untuk membangun tembok rumah. Material itu menjadi ciri khas yang membedakan bangunan tersebut dari rumah pada umumnya.
Ia juga menceritakan kisah yang diwariskan turun-temurun mengenai ketahanan dinding rumah saat masa perang. Menurut cerita tersebut, tembok rumah yang terbuat dari tanah disebut tidak mudah ditembus peluru. Namun, cerita itu masih memerlukan pembuktian sejarah maupun teknis untuk memastikan kebenarannya.
Keberadaan rumah tersebut membuat sejumlah pengunjung tertarik datang untuk melihat bangunan yang disebut berusia ratusan tahun itu. Meski demikian, Opung Sagala tidak mengizinkan wisatawan masuk ke dalam rumahnya yang tetap tertutup.
Dalam kesehariannya, Opung Sagala menghadapi keterbatasan fisik karena usianya yang telah lanjut. Ia dilaporkan kesulitan berjalan dan mengalami gangguan penglihatan akibat katarak. Untuk menggunakan kamar mandi yang berada di samping rumah, ia juga mengalami kesulitan.
Opung Sagala sehari-hari ditemani sekitar enam ekor anjing yang berada di sekitar rumah. Hewan-hewan itu terkadang menggonggong ketika melihat orang asing datang. Sesekali, Opung Sagala meminta anjing-anjing tersebut berhenti menggonggong ketika suasana dinilainya terlalu ramai.
Di tengah keterbatasan tersebut, Opung Sagala tetap tinggal di rumah yang menurut penuturannya merupakan warisan leluhur. Rumah di kawasan Sianjur Mula Mula itu bukan hanya menarik perhatian wisatawan, tetapi juga menyimpan kisah keluarga dan tradisi yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Kisah Opung Sagala memperlihatkan bagaimana sebuah rumah lama dapat menjadi bagian dari ingatan keluarga dan daya tarik suatu wilayah. Namun, kepastian usia bangunan serta statusnya sebagai rumah tanah tertua di Samosir tetap perlu ditelusuri melalui kajian sejarah dan keterangan pihak yang berkompeten.* (ds/dh)