MEDAN – Ulos dikenal sebagai kain tradisional masyarakat Batak yang kerap digunakan dalam berbagai upacara adat.
Namun, kain ini tidak sekadar berfungsi sebagai pakaian atau pelengkap busana.
Ulos juga menyimpan makna tentang doa, kasih sayang, hubungan kekerabatan, penghormatan, dan identitas budaya Batak.
Baca Juga: Rico Waas Ingatkan Budaya Melayu Terancam Punah, Generasi Muda Diminta Tak Melupakan Warisan Daerah Budayawan Batak Thompson Hs menjelaskan, ulos pada awalnya memiliki fungsi praktis sebagai penghangat tubuh.
Fungsi tersebut berkaitan dengan kondisi cuaca dingin di wilayah tempat leluhur masyarakat Batak tinggal.
Seiring perkembangan zaman, ulos kemudian memiliki makna yang lebih luas dalam kehidupan sosial dan adat.
"Ulos pada awalnya dimaknai sebagai penghangat, baik karena cuaca dingin maupun untuk hubungan kekerabatan," jelas Thompson.
Menurut Thompson, ulos juga berkembang menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika.
Motif dan bentuknya kini diadaptasi oleh para desainer untuk memenuhi kebutuhan industri kreatif dan komersial.
Meski demikian, makna ulos dalam tradisi Batak tidak dapat dilepaskan dari konteks adat dan hubungan antara orang yang memberikan dengan pihak yang menerimanya.
Dalam tradisi Batak Toba, pemberian ulos dapat dimulai bahkan sebelum seorang anak dilahirkan.
Salah satu contohnya adalah tradisi mangirdak atau mambosuri, yakni kebiasaan adat yang dilakukan ketika usia kehamilan ibu memasuki sekitar tujuh bulan.