BANDA ACEH – Tim Adat Aceh Cang Panah (TAA CP) Sumatera Utara terus memperkuat peran sebagai wadah pemersatu masyarakat Aceh di perantauan melalui pelestarian adat, budaya, kegiatan sosial, dan keagamaan. Organisasi ini mengusung semangat Silaturahmi Tanpa Batas sebagai fondasi utama dalam membangun kebersamaan antarsesama perantau.
Hal tersebut disampaikan Pendiri sekaligus Wali Adat Aceh Cang Panah Sumut, H. Zulkifli Hamzah atau yang akrab disapa Abu Tibore, saat menghadiri acara walimatul urusy putra Bustami di Gedung UCC Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh, Sabtu (27/6/2026).
Abu Tibore menjelaskan, TAA CP berdiri atas dorongan masyarakat Aceh yang merantau di Sumatera Utara agar memiliki wadah untuk menjaga nilai-nilai adat, budaya, serta mempererat hubungan kekeluargaan.
Baca Juga: SMAN 7 Banda Aceh Borong 5 Medali di O2SN 2026, Raih 2 Emas dan 3 Perak "Tim Adat Aceh Cang Panah lebih mengutamakan silaturahmi tanpa batas. Kami ingin seluruh masyarakat Aceh di perantauan tetap bersatu dan terus melestarikan adat istiadat yang diwariskan para leluhur," ujar Abu Tibore.
Menurutnya, di wilayah Sumatera Utara, TAA CP aktif mendampingi berbagai kegiatan adat Aceh, khususnya prosesi perkawinan, mulai dari persiapan pakaian adat hingga pelaksanaan tradisi penyambutan tamu atau Seumapa.
Sementara itu, Panglima TAA CP Sumatera Utara, Kompol (Purn) M. Hasan Yusuf SH, mengatakan organisasi tersebut telah memiliki kepengurusan di sejumlah kabupaten dan kota melalui struktur Panglima Sagoe yang bertugas mengoordinasikan setiap pelaksanaan kegiatan adat.
"TAA CP tidak hanya bergerak di bidang adat dan budaya, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Kami ingin keberadaan organisasi ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh di perantauan," katanya.
(Foto: Kompol ( Purn) M. Hasan Yusuf SH duduk paling pinggir sebelah kanan, foto tengah Zulkifli Hamzah atau Abu Tibore.)
Hasan Yusuf menambahkan, sejak berdiri, TAA CP juga menjalin kerja sama sosial dengan komunitas masyarakat Aceh di berbagai daerah, termasuk di Malaysia.
Salah satu bentuk kepedulian yang dijalankan ialah membantu proses pemulangan jenazah warga Aceh yang meninggal dunia di Malaysia hingga ke kampung halamannya.
"Kami membantu proses pemulangan jenazah hingga mengantarkan ke alamat keluarga di Aceh sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama perantau," ungkapnya.