MEDAN – Ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, aktivis, hingga masyarakat umum menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik film dokumenter bertajuk "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" di King Coffee, Jalan Pancing No. 100, Sidorejo, Medan Tembung, Rabu malam (20/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 150 peserta dari berbagai organisasi kampus dan komunitas yang ada di Kota Medan.
Acara ini digagas oleh Siagian Global Research (SGR) bersama sejumlah organisasi mahasiswa dan lembaga masyarakat sipil, serta didukung berbagai media dan lembaga advokasi.
Baca Juga: Yusril Tegaskan Tak Ada Larangan Nobar Film Dokumenter “Pesta Babi”: Indonesia Tidak Pernah Menjajah Papua Film dokumenter "Pesta Babi" menyoroti perjuangan masyarakat adat Papua Selatan dari suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu dalam mempertahankan tanah ulayat mereka dari berbagai proyek pembangunan dan investasi berskala besar.
Film tersebut menggambarkan dinamika yang disebut sebagai bentuk kolonialisme modern yang berdampak pada perampasan ruang hidup, kerusakan lingkungan, serta ancaman terhadap budaya masyarakat adat.
Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik yang dipantik oleh akademisi Antropologi, Dr. Rosramadhana, serta perwakilan mahasiswa Papua di Sumatera Utara, Aristoteles Tekege.
Dalam pemaparannya, Rosramadhana menilai film tersebut merefleksikan realitas sosial yang tidak hanya terjadi di Papua, tetapi juga relevan dengan isu masyarakat adat di berbagai daerah di Indonesia.
"Film ini menjadi pengingat bagi kita semua, bukan hanya soal Papua, tapi juga masyarakat adat di daerah lain yang menghadapi ancaman serupa," ujarnya.
Sementara itu, Aristoteles Tekege menyebut sejumlah adegan dalam film menggambarkan realitas yang dialami masyarakat Papua, meski masih ada aspek lain yang belum sepenuhnya terekspos, terutama dampak sosial dan psikologis.
Diskusi juga diikuti berbagai organisasi mahasiswa seperti HMI, GMNI, PMKRI, hingga komunitas kampus di Medan yang turut menyampaikan pandangan terkait isu lingkungan, sosial, dan keadilan masyarakat adat.
Acara berlangsung hangat dan interaktif hingga akhir, ditutup dengan penggalangan donasi sukarela untuk mendukung dokumenter dan perjuangan masyarakat adat Papua.*
(dh)