JAKARTA – Kerusuhan Mei 1998 tercatat sebagai salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah politik Indonesia modern.
Peristiwa yang berlangsung sekitar 10 hari itu dipicu oleh penembakan terhadap mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 dan berujung pada lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
Peristiwa bermula pada 12 Mei 1998 ketika aparat keamanan menembak mati mahasiswa Universitas Trisakti yang tengah menggelar aksi damai.
Baca Juga: Dugaan Politik Dinasti dan Alokasi APBD Tak Tepat Sasaran di Kaltim, Prabowo Didesak Turun Tangan Enam mahasiswa dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, Alan Mulyadi, Hendriawan Sie, dan Vero.
Peristiwa itu memicu gelombang kemarahan publik dan aksi demonstrasi di berbagai titik di Jakarta.
Sehari setelahnya, pada 13 Mei 1998, kerusuhan meluas di sekitar kawasan Universitas Trisakti dan semakin tidak terkendali. Situasi keamanan di Ibu Kota kian memburuk.
Pada 14 Mei 1998, kerusuhan mulai menyebar ke sejumlah kota besar di Indonesia. Aksi massa disertai pembakaran dan penjarahan dilaporkan terjadi di berbagai lokasi.
Memasuki 15 Mei 1998, kerusuhan meluas hingga ke pusat-pusat perbelanjaan.
Salah satu lokasi yang terdampak adalah pusat perbelanjaan di kawasan Klender, Jakarta Timur, di mana dilaporkan banyak korban jiwa dalam insiden kebakaran dan kepanikan massa.
Sehari kemudian, 16 Mei 1998, kerusuhan masih berlanjut. Peristiwa serupa kembali terjadi di sejumlah titik, termasuk Cileduk Plaza yang juga dilaporkan menimbulkan korban jiwa.
Pada 17 Mei 1998, situasi semakin tidak terkendali. Berdasarkan laporan yang beredar saat itu, ratusan orang dilaporkan meninggal dunia dan ribuan bangunan terbakar di berbagai wilayah Jakarta.
Gelombang demonstrasi kemudian berlanjut ke ranah politik pada 18 Mei 1998, ketika ribuan mahasiswa menduduki Kompleks Parlemen Senayan.