MEDAN – Nama Tjong Yong Hian tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal perkembangan Kota Medan. Sosok pengusaha keturunan Tionghoa itu dikenal memiliki peran besar dalam membangun relasi ekonomi, sosial, hingga pemerintahan di Sumatera Timur pada masa kolonial Belanda.
Dosen Ilmu Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU), Kiki Maulana Affandi mengatakan Tjong Yong Hian menjadi figur penting dalam pertumbuhan Kota Medan sebagai pusat perdagangan di Sumatera Timur.
"Tjong Yong Hian dikenal dalam perannya sebagai salah satu pembangun Kota Medan. Dia mengembangkan bisnisnya dengan menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah Belanda, pengusaha Eropa, dan Kesultanan Deli," ujar Kiki, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: PWPM Perkuat Kemitraan dengan Pemko Medan, Kominfo Siap Dukung Kompetensi Wartawan Menurut Kiki, perjalanan Tjong Yong Hian dimulai dari usaha keluarga sebelum akhirnya merantau ke Sumatera Timur sejak usia muda untuk memperluas jaringan bisnis dan pengaruhnya.
Dalam sejarah perkembangan Medan, Tjong Yong Hian disebut lebih dahulu aktif dibanding adiknya, Tjong A Fie, terutama dalam membangun hubungan sosial dan ekonomi di tengah komunitas Tionghoa.
"Sebelum ke Tanah Deli, Tjong Yong Hian bekerja di toko keluarga dan kemudian merantau ke Sumatera Timur sejak muda. Ia lebih dulu berperan dalam perkembangan Medan dan komunitas Tionghoa di Sumatera Timur," jelasnya.
Tak hanya di bidang ekonomi, Tjong Yong Hian juga terlibat dalam pemerintahan kolonial Belanda. Ia pernah menjabat sebagai Majoor der Chineezen atau pemimpin komunitas Tionghoa di Medan.
Selain itu, ia turut menjadi representasi masyarakat Tionghoa dalam Dewan Kota ketika Gemeente Medan mulai melakukan penataan kota.
Jejak sejarah Tjong Yong Hian masih bisa ditemukan di Kota Medan hingga kini. Salah satunya melalui Mansion Tjong Yong Hian serta nama Jalan Tjong Yong Hian yang menjadi bagian dari sejarah kota.
"Peninggalan seperti Mansion Tjong Yong Hian dan nama jalan di Medan menjadi bukti kontribusinya dalam pembangunan kota dan masyarakat Medan pada masa lalu," tutup Kiki.*
(ds/dh)