TANJUNGBALAI - Di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, beredar kisah rakyat yang dipercaya menjadi asal-usul Pulau Simardan, sebuah legenda yang kerap disandingkan dengan cerita Malin Kundang.
Dosen sejarah Universitas Sumatera Utara, M. Azis Risky Lubis, menjelaskan bahwa nama Pulau Simardan berasal dari kisah seorang anak bernama Mardan yang hidup dalam keterbatasan bersama ibunya setelah ayahnya meninggal dunia.
"Mardan berasal dari keluarga sederhana dan hanya tinggal bersama ibunya," ujar Azis, Senin, 4 Mei 2026.
Baca Juga: Bobby Nasution Hadiri Pengukuhan Kepala LPS I, Tekankan Stabilitas Keuangan Sumut Dalam versi cerita yang berkembang secara lisan di masyarakat, Mardan disebut memperoleh wangsit melalui mimpi tentang harta karun di sekitar tempat tinggalnya.
Ia kemudian menemukan harta tersebut dan memutuskan merantau ke negeri seberang untuk mengubah nasib.
Setelah lama tidak kembali, Mardan dikisahkan pulang dengan kehidupan yang jauh berbeda: membawa kapal besar, pengawal, dan seorang istri.
Namun kepulangannya berubah menjadi tragedi ketika ia justru memperlakukan ibunya dengan kasar karena merasa malu dengan kondisi sang ibu yang miskin.
"Bak air susu dibalas air tuba, Mardan menyakiti orang tua yang melahirkannya," kata Azis mengutip cerita tersebut.
Dalam kisah itu, sang ibu yang tersakiti kemudian berdoa memohon petunjuk.
Tak lama, angin kencang menghantam kapal Mardan hingga hancur, dan ia diyakini tenggelam di laut sebelum berubah menjadi pulau yang kini dikenal sebagai Pulau Simardan.
Menurut Azis, cerita tersebut merupakan bagian dari pola besar tradisi lisan Nusantara yang memiliki kemiripan dengan berbagai legenda daerah lain, seperti Sampuraga di Tapanuli Selatan dan Malin Kundang di Sumatera Barat.
Ia menyebut kisah-kisah tersebut berfungsi sebagai "monumen moral" yang menanamkan nilai bakti kepada orang tua serta konsekuensi dari sikap durhaka dalam kehidupan sosial masyarakat.