JAKARTA - Presiden RI Prabowo Subianto mengungkap perjalanan panjang pencak silat yang kini menjadi identitas bangsa dan semakin dikenal dunia.
Ia menyebut, di masa penjajahan, pencak silat bahkan sempat dilarang.
Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) ke-XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia di Jakarta Convention Center, Sabtu (11/4/2026).
Baca Juga: Prabowo Dukung Pencak Silat Tembus Olimpiade, Optimistis Bisa Tampil di 2028 Prabowo awalnya menyinggung sejarah panjang penjajahan di Indonesia yang membuat berbagai aktivitas, termasuk bela diri tradisional, dibatasi.
"Waktu itu pencak silat dilarang, tidak boleh belajar. Akhirnya dilatih diam-diam di malam hari, di bukit dan gunung," kata Prabowo.
Menurutnya, larangan tersebut membuat pencak silat identik sebagai "olahraga kampung" karena latihan dilakukan secara sembunyi-sembunyi di daerah terpencil.
"Karena penjajah ada di kota, maka yang belajar silat harus ke desa, ke kampung, ke gunung. Latihannya diam-diam," ujarnya.
Meski demikian, Prabowo menilai kondisi itu justru membentuk kekuatan dan keaslian pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.
Kini, lanjutnya, pencak silat telah berkembang pesat dan menjadi daya tarik bagi negara lain. Banyak pihak dari luar negeri datang ke Indonesia untuk mempelajari bela diri tersebut.
"Kalau ilmunya murni dan kuat, orang dari mana-mana akan datang belajar, dan itu sudah terbukti," ucapnya.
Prabowo juga mencontohkan sejumlah negara seperti Vietnam dan Thailand yang sebelumnya belajar pencak silat dari Indonesia, kini mampu berkembang bahkan menjadi pesaing dalam kompetisi internasional.
"Kita dulu yang melatih mereka, lalu mereka jadi hebat dan pernah mengalahkan kita. Tidak apa-apa, itu risiko seorang guru," katanya.