MEDAN — Tradisi mangalahat horbo masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba.
Ritual ini berupa penyembelihan kerbau jantan sebagai bentuk persembahan tertinggi kepada Mulajadi Na Bolon, yang dimaknai sebagai ungkapan syukur, permohonan berkat, hingga penguatan identitas sosial dan budaya.
Prosesi tersebut umumnya digelar dalam upacara adat besar seperti horja bius atau saurmatua, dan diiringi dengan tari tortor, gondang, serta doa adat.
Baca Juga: Kapolda Aceh Hadiri Mubes Majelis Adat, Dorong Peran Adat di Tengah Dinamika Sosial Dalam tradisi ini, kerbau dipandang sebagai simbol kemakmuran, kekuatan, dan penghormatan tertinggi.
Akademisi Universitas Sumatera Utara, Robert Sibarani, mengatakan bahwa mangalahat horbo memiliki makna spiritual sekaligus sosial dalam masyarakat Batak Toba.
"Ini adalah kurban persembahan kepada Tuhan sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Kerbau yang disembelih melambangkan pengorbanan dan kebersamaan," kata Robert, Selasa, 7 April 2026.
Ia menjelaskan, rangkaian prosesi diawali dengan musyawarah adat yang melibatkan raja parhata, tokoh adat, serta keluarga besar.
Kerbau yang akan dikurbankan dipilih secara khusus, kemudian didoakan sebelum disembelih.
Setelah prosesi penyembelihan, daging kerbau dibagikan kepada seluruh hadirin sesuai aturan adat.
Pembagian tersebut tidak dilakukan sembarangan karena setiap bagian memiliki makna tersendiri dalam struktur sosial masyarakat Batak Toba.
"Di situ terlihat nilai keadilan, persatuan, dan penghormatan terhadap tatanan sosial," ujar Robert.
Tradisi mangalahat horbo biasanya dilaksanakan dalam berbagai momen penting, seperti pesta adat besar, peresmian rumah adat, hingga acara syukuran yang melibatkan banyak masyarakat.