MEDAN – Tradisi mangulosi dalam masyarakat Batak tetap bertahan sebagai bagian penting dalam setiap fase kehidupan manusia, mulai dari kelahiran hingga kematian.
Ulos tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga merepresentasikan nilai kasih sayang dan hubungan kekerabatan yang kuat.
Dalam praktiknya, pemberian ulos hadir dalam berbagai peristiwa adat, seperti pemberian nama, pernikahan, hingga prosesi kematian, terutama dalam kondisi saur matua, yakni saat seseorang meninggal dunia dalam keadaan telah memiliki keturunan lengkap.
Baca Juga: Penyerahan Sertifikat KI 2026 Disiapkan, Bali Targetkan Ekosistem Kreatif yang Terintegrasi dan Berkelanjutan Antropolog dari Universitas Sumatera Utara, Rytha Tambunan, menjelaskan bahwa tradisi mangulosi tetap lestari karena memiliki makna yang mendalam dalam hubungan sosial masyarakat Batak.
"Pemberian ulos bukan sekadar bagian dari seremoni adat, tetapi bentuk perhatian dalam hubungan kekerabatan," ujarnya.
Ia menambahkan, mangulosi juga menjadi simbol kasih sayang yang mengikat antaranggota keluarga.
Tradisi ini tidak terlepas dari sistem sosial Dalihan Na Tolu yang mengatur peran setiap pihak dalam adat.
Dalam struktur tersebut, pihak hula-hula memiliki peran penting sebagai pemberi ulos, yang melambangkan restu dan penghormatan.
Sementara itu, pihak boru menerima ulos sebagai bagian dari hubungan timbal balik dalam sistem kekerabatan.
Menurut Rytha, keberlangsungan tradisi mangulosi menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya Batak masih hidup dan terus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari adat, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dalam setiap tahap kehidupan.
Mangulosi pun menjadi simbol yang diwariskan dari generasi ke generasi, menjaga identitas budaya sekaligus mempererat ikatan keluarga dalam masyarakat Batak.*