MEDAN — Perempuan dalam budaya Batak memiliki peran yang jauh melampaui urusan domestik.
Di tengah sistem kekerabatan patrilineal, mereka justru menjadi penjaga nilai adat, penghubung antar keluarga, hingga penopang ekonomi rumah tangga.
Dalam struktur sosial Batak, posisi laki-laki memang menempati peran formal dalam garis keturunan.
Baca Juga: KUR BCA 2026 Resmi Dibuka, Pinjaman Rp100 Juta Cicilan Mulai Rp1,9 Juta! Namun dalam praktik sehari-hari, perempuan memegang fungsi penting dalam menjaga keseimbangan sosial dan keberlangsungan budaya.
Antropolog Koentjaraningrat menyebut bahwa perempuan dalam masyarakat tradisional memiliki peran kultural yang kuat, meskipun tidak selalu terlihat dalam struktur kekuasaan formal.
"Perempuan dalam masyarakat tradisional sering kali menjadi penjaga nilai dan norma budaya, termasuk dalam keluarga dan komunitas," tulis Koentjaraningrat dalam kajiannya.
Peran tersebut terlihat jelas dalam berbagai upacara adat Batak.
Perempuan terlibat aktif sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan, mulai dari penyediaan makanan adat hingga menjaga keharmonisan hubungan antar keluarga.
Peneliti budaya Asia Tenggara, Daniel Perret, juga menyoroti posisi perempuan sebagai penghubung dalam jaringan kekerabatan.
Menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam memperkuat relasi sosial, terutama melalui sistem perkawinan.
"Perempuan memainkan peran penting sebagai penghubung antar kelompok kekerabatan," ujarnya.
Selain dalam ranah adat, perempuan Batak juga aktif dalam sektor ekonomi.