JAKARTA – Opor ayam sering kali menjadi hidangan yang tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di banyak keluarga Indonesia.
Ketupat, opor ayam, dan lauk rumahan lainnya hampir selalu hadir di meja makan, menyajikan kehangatan yang mengingatkan pada kebersamaan dan rasa pulang.
Namun, di balik rasanya yang gurih dan mudah diterima lidah, opor ayam menyimpan sejarah panjang yang melekat erat dengan tradisi Indonesia.
Baca Juga: Polri Terapkan One Way Nasional Siang Ini, Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Bagi banyak orang, opor ayam bukan hanya sekadar makanan, melainkan juga sebuah simbol yang memanggil kembali kenangan.
Aromanya mengingatkan pada suasana pagi Lebaran di rumah, dengan keluarga yang berkumpul, serta tawa dan percakapan yang hangat.
Rasa santan yang gurih dan rempah yang kaya menjadi pengingat akan kebersamaan yang sudah lama hilang, mengembalikan rasa rindu akan kampung halaman dan masakan rumah.
Sejarah dan Asal Usul Opor Ayam
Secara umum, opor ayam dikenal sebagai hidangan Indonesia berbahan dasar ayam dan santan, yang sering disajikan bersama ketupat saat Lebaran. Meski terdengar sederhana, opor ayam bukanlah makanan baru.
Sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, mengungkapkan bahwa opor pertama kali berkembang di Jawa pada abad ke-15 hingga 16, berasal dari pengaruh kari yang lebih dulu dikenal di Nusantara.
Namun, opor memiliki ciri khas yang membedakannya dari kari. Rempah-rempah yang digunakan lebih ringan dan kuah santannya tidak sekuat kari.
Sebagai hasil dari pertemuan budaya, opor ayam menyesuaikan selera lokal dan kemudian berkembang menjadi hidangan yang begitu lekat dengan budaya Jawa.
Variasi Opor Ayam: Putih dan Kuning