KARO — Sebuah rumah tua bergaya kolonial di kawasan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menyimpan jejak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Bangunan tersebut pernah menjadi tempat pengasingan tiga tokoh nasional, yakni Soekarno, Haji Agus Salim, dan Sutan Sjahrir pada masa revolusi kemerdekaan.
Dalam unggahan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II, rumah tersebut disebut memiliki nilai sejarah penting bagi perjalanan Republik Indonesia.
Baca Juga: Diduga Ada Pungutan Fee 25 Persen, Massa JSI-GRIB Desak BPK Audit Total Proyek Infrastruktur di Tapsel "Rumah ini memiliki nilai penting bagi Republik Indonesia. Tahun 1948 Soekarno, Agus Salim dan Sjahrir pernah diasingkan dan ditempatkan di rumah ini oleh Belanda," tulis lembaga tersebut dalam keterangan yang dikutip pada Senin, 9 Maret 2026.
Awalnya Rumah Peristirahatan Pegawai Kolonial
Bangunan tersebut diperkirakan telah berdiri sejak awal abad ke-20, bersamaan dengan berkembangnya industri perkebunan di wilayah pesisir timur Sumatra.
Pada masa itu, Berastagi dikenal sebagai kawasan peristirahatan bagi pejabat kolonial Belanda karena udaranya yang sejuk di dataran tinggi.
Rumah tersebut awalnya dikenal sebagai Pasanggrahan, yakni rumah peristirahatan yang berada di kawasan wisata berhawa dingin.
"Rumah pengasingan Soekarno ini awalnya merupakan rumah peristirahatan yang dikenal dengan nama Pasanggrahan di Desa Lau Gumba," tulis Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II.
Istilah pasanggrahan sendiri diserap pemerintah kolonial Belanda untuk menyebut rumah peristirahatan yang dibangun di daerah pegunungan atau kawasan yang dianggap cocok untuk berlibur.
Catatan sejarah menyebut kawasan Berastagi mulai berkembang sebagai daerah vila dan tempat peristirahatan sejak awal 1900-an.
Perusahaan-perusahaan perkebunan di kawasan Deli bahkan mulai membangun vila di Berastagi sejak tahun 1907.