DENPASAR – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, menegaskan bahwa pariwisata Bali harus tetap berakar pada budaya.
Pernyataan ini disampaikannya saat membuka Pameran Seni Rupa bertajuk "Tutur Ayu" yang digelar Komunitas Soko Guru di Griya Santrian Art Gallery, Sanur, Jumat (6/3/2026) malam.
Menurut Putri Koster, budaya merupakan fondasi utama yang memberikan keunikan, nilai jual, dan jati diri Bali.
Baca Juga: Prabowo Dukung Menteri PU Kejar Kerugian Negara Rp 1 Triliun Tanpa akar budaya yang kuat, Bali berisiko kehilangan daya tariknya sekaligus mengalami krisis identitas.
"Ruang-ruang perupa itu masih ada. Idealisme dan tutur-tutur bisa diguratkan lewat karya-karya seni. Saya berharap para seniman perupa Bali tetap memiliki idealisme yang tinggi," ujar Putri Koster.
Pameran "Tutur Ayu" menampilkan 18 karya lukisan dari tiga perupa Bali yang juga dikenal sebagai guru seni, yakni Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha.
Tema "Tutur Ayu" merujuk pada wejangan atau petuah dalam kehidupan masyarakat Bali yang menjadi landasan moral dan kebijaksanaan bagi generasi penerus.
Putri Koster menekankan bahwa, di tengah perkembangan zaman dan teknologi, Bali harus tetap menjaga nilai-nilai budaya agar tetap ajeg dan lestari, sambil menyesuaikan diri dengan kemajuan global.
Sementara itu, pemerhati seni I Made Susanta Dwitanaya menyebut pameran ini merupakan refleksi panjang pengabdian para seniman yang menyalurkan nilai pengetahuan dan filosofi Bali melalui karya-karya mereka.
"Dalam perjalanan panjang pengabdian, ada jejak-jejak sunyi yang tak pernah benar-benar selesai dituliskan. Ada jejak yang terus hidup melalui karya, nilai, dan ketulusan berbagi pengetahuan," jelasnya.
Pameran ini menghadirkan ruang refleksi sekaligus edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda Bali, agar terus menghargai nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan.*