MEDAN – Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara menyimpan berbagai arsip penting yang mencatat perjalanan pers Indonesia, termasuk koran dan dokumen perjuangan dari masa kolonial hingga era modern.
Museum ini berada di rumah pribadi tokoh pers legendaris, H. Muhammad Tok Wan Haria, di Jalan Sei Alas No. 6, Kecamatan Medan Petisah, dan diresmikan pada 15 November 2019, bertepatan dengan ulang tahun TWH ke-87.
Koleksi museum berasal dari hobi TWH mengumpulkan dokumen pers, foto, surat kabar lama, dan arsip perjuangan selama puluhan tahun.
Baca Juga: Safari Ramadan di Pematangsiantar, Gubernur Sumut Dorong Seimbangkan Pembangunan Masjid dan Kesejahteraan Warga Salah satu koleksi unggulannya adalah Bataviasche Nouvelles, surat kabar pertama di Indonesia terbitan 1744, yang dipamerkan dalam beberapa lembar. Selain itu, museum memajang DeliKoran, Buruh Tapanuli, Nias Berita, Mandeuling, dan Parito Batak.
Museum ini juga menampilkan foto tokoh pers dan pahlawan nasional, buku sejarah pers dan jurnalistik, alat jurnalistik seperti mesin ketik dan kamera, serta dokumen yang menunjukkan peran pers dalam perjuangan kemerdekaan, khususnya di Sumatera Utara.
"Terdapat 547 koleksi sejarah milik almarhum TWH. Namun, keterbatasan ruang membuat tidak semua koleksi dapat dipamerkan. Sebagian masih disimpan karena kondisi museum yang sempit," ujar Mufti Mutawatir TWH, sekretaris museum sekaligus cucu almarhum, Jumat (6/3/2026).
Mufti berharap pemerintah dapat mendukung pendirian museum pers yang lebih representatif di Sumatera Utara agar seluruh koleksi dapat dirawat dan dinikmati generasi muda sebagai sarana edukasi sejarah pers.
Saat ini, Museum Perjuangan Pers menjadi media pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan dan peran pers dalam sejarah Indonesia.*
(ds/dh)