JAKARTA - Menjelang bulan suci Ramadan, suasana di desa-desa Jawa menjadi lebih hidup.
Aroma masakan khas, suara doa, dan kebersamaan warga menandai tibanya tradisi Munggahan atau Punggahan, ritual khas sebelum memasuki bulan puasa.
Meski nama dan sebutannya berbeda, Munggahan di Jawa Barat dan Punggahan di Jawa Tengah hingga Jawa Timur sejatinya merujuk pada tradisi yang sama.
Baca Juga: Masjid Agung Baitul Ghafur Abdya: Ikon Religi dan Destinasi Wisata Menjelang Ramadan Secara etimologi, kata "Munggah" berarti naik atau memasuki tempat yang lebih tinggi.
Filosofinya, Munggahan menjadi momen untuk "naik" ke tingkat spiritual lebih tinggi sebelum menjalani ibadah puasa penuh selama sebulan.
Sejarah Punggahan
Menurut jurnal Tradisi Punggahan M (2020) karya Salma Al Zahra Ramadhani dan Nor Mohammad Abdoeh, tradisi ini tidak lepas dari pengaruh Sunan Kalijaga.
Dalam upaya menyebarkan Islam di Nusantara, Sunan Kalijaga mengadaptasi ajaran agama ke dalam budaya lokal agar masyarakat lebih mudah menerima Islam.
Punggahan mengajarkan pentingnya bersedekah, menjaga hubungan baik dengan tetangga, dan mendoakan leluhur sebelum memulai puasa.
Acara ini biasanya berlangsung di rumah atau masjid, dipandu oleh guru ngaji atau kiai setempat, dan diisi dengan pembacaan tahlil serta doa bersama.
Hidangan Khas Punggahan
Dalam tradisi ini, beberapa hidangan wajib selalu hadir. Di antaranya:- Nasi Kluban dan Tumpeng – biasanya disajikan di rumah.- Apem, Pasung, Gedang Rojo (Pisang Raja), dan Ketan – umumnya dibawa saat acara di masjid atau musala.