DELI SERDANG – Di balik rimbunnya perkebunan dan pemukiman di Kecamatan Deli Tua, tersembunyi sebuah mahakarya militer yang selama ini dianggap sekadar latar dongeng Putri Hijau.
Penelitian arkeologi terbaru mengungkap, situs ini adalah benteng pusat (citadel) seluas puluhan hektare yang menandai pertahanan militer paling rumit di Sumatera pada abad ke-16.
Arkeolog E. Edwards McKinnon menekankan keunikan teknik pertahanan di Deli Tua dalam kajiannya "Archaeological Investigations in North Sumatra":
Baca Juga: Harga Emas Antam Anjlok! Kini Rp 2,9 Juta/Gram "Sistem pertahanan memanfaatkan kontur sungai dan parit buatan sedalam 3 hingga 5 meter. Struktur tanah yang fleksibel namun padat ini lebih efektif meredam dentuman meriam perunggu dibanding tembok batu yang retak saat ditembaki proyektil berat."
Teknologi "anti-meriam" ini memperlihatkan tingkat kecanggihan militer kerajaan lokal yang jarang ditemui di Nusantara pada masa itu.
Kekayaan kerajaan Deli Tua tidak hanya bersumber dari legenda, melainkan dari posisi strategis sebagai gerbang perdagangan lada.
Para peneliti menemukan pecahan keramik Dinasti Ming (Tiongkok) dan Sawankhalok (Thailand) di lokasi benteng.
Sejarawan Anthony Reid menyoroti peran penting kerajaan pedalaman Sumatera dalam perdagangan maritim global:
"Kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur adalah pemain dalam jaringan perdagangan yang menukar komoditas hutan dan lada dengan persenjataan canggih serta barang mewah dari Asia."
Namun, kejayaan benteng Deli Tua berakhir setelah penyerbuan Kerajaan Aceh, menandai runtuhnya era kerajaan pedalaman yang mandiri.
Kini, ancaman terbesar datang dari ekskavasi liar dan pembangunan tanpa pengawasan.
Tanpa perlindungan serius, warisan militer ini bisa hilang sebelum sempat diwariskan ke generasi mendatang.