MEDAN – Bagi masyarakat Batak Toba, alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian integral dari tatanan kosmis yang menghubungkan manusia, leluhur, dan kekuatan adikodrati.
Cara pandang ini, dikenal sebagai kosmologi Batak, membentuk adat, ritual, dan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sistem kosmologi Batak Toba, alam semesta dibagi menjadi tiga lapisan utama: Banua Ginjang (dunia atas), Banua Tonga (dunia tengah), dan Banua Toru (dunia bawah).
Baca Juga: Operasi Keselamatan Toba 2026 Dimulai, Wakil Bupati Labusel Tekankan Pendekatan Humanis dan Sinergi Lintas Sektor Pembagian ini bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi dasar masyarakat Batak memahami kehidupan dan kematian.
Antropolog J.C. Vergouwen menjelaskan bahwa struktur kosmologi ini tercermin dalam tata sosial dan praktik ritual masyarakat Batak Toba.
"Pandangan kosmis orang Batak memengaruhi cara mereka mengatur kehidupan sosial, hubungan dengan alam, dan praktik ritual," tulis Vergouwen dalam kajiannya.
Alam Sebagai PenandaFenomena alam seperti pergerakan matahari, bulan, dan bintang dijadikan penanda waktu serta pertanda penting.
Pengetahuan ini tersimpan dalam pustaha laklak, naskah tradisional Batak yang ditulis di atas kulit kayu.
Filolog Uli Kozok mencatat dalam Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak bahwa pustaha tidak hanya berisi mantra atau pengobatan, tetapi juga sistem pengetahuan kosmologis yang digunakan untuk menentukan waktu ritual, pertanian, hingga perjalanan jauh.
Peran Datu dan ParbaringinPenafsiran tanda-tanda alam tidak dilakukan sembarang orang.
Datu atau parbaringin—tokoh adat yang menguasai pengetahuan kosmologi dan penanggalan—memegang otoritas moral dalam pengambilan keputusan.
Vergouwen menekankan, "Pengetahuan tentang alam dan kosmos memberi legitimasi adat bagi para datu dalam membimbing masyarakat."