MEDAN – Indonesia kaya akan suku dan budaya, namun tak semua tradisi mampu bertahan di tengah arus modernisasi.
Salah satu yang masih hidup dan dijaga ketat adalah tradisi erlau-lau dari Suku Karo, masyarakat yang menempati dataran tinggi Provinsi Sumatera Utara atau biasa disebut Tanah Karo.
Erlau-lau, yang secara harfiah berarti "bermain air," bukan sekadar permainan.
Baca Juga: Eks Kapolres Tapsel Sebut Berutang Budi ke Akhirun Piliang Tradisi ini menjadi ritual spiritual masyarakat Karo untuk memanggil turunnya hujan saat musim kemarau berkepanjangan.
Dalam ritual ini, masyarakat menyiramkan air satu sama lain sebagai simbol doa agar Tuhan menurunkan hujan.
Tradisi erlau-lau kerap diiringi Tari Gundala-Gundala, tarian yang memiliki akar legenda lokal.
Dalam sejarahnya, tarian ini berkaitan dengan burung sakti Gurda Gurdi, yang diyakini memiliki kekuatan spiritual untuk menghadirkan hujan.
Tari Gundala-Gundala memperlihatkan penari dengan pakaian cerah dan topeng, diiringi musik tradisional Karo yang disebut gendang lima sindalanen, meliputi sarune, gendang singindungi, gendang singanaki, penganak, dan gung.
Penting melestarikan tradisi ini, terutama di era modernisasi yang kian mengikis budaya lokal.
Tradisi erlau-lau bukan sekadar simbol adat, tetapi juga bentuk harmoni masyarakat Karo dengan alam.
Melalui ritual ini, masyarakat Karo tidak hanya memohon hujan untuk pertanian, tetapi juga meneguhkan identitas budaya yang unik di tengah kekayaan suku bangsa Indonesia.*