MEDAN – Ikan arsik bukan sekadar hidangan di meja makan masyarakat Batak Toba.
Lebih dari itu, kuliner khas Sumatera Utara ini menyimpan sejarah, makna spiritual, dan filosofi sosial yang telah diwariskan turun-temurun.
Berdasarkan kajian Jurnal Gastronomi Indonesia, pada awalnya masyarakat Batak menggunakan ikan jurung, ikan air tawar yang hidup di Danau Toba, dalam berbagai upacara adat.
Baca Juga: Ini Alasan Polisi Gerebek Jermal 15 Medan untuk Ke-8 Kalinya Ikan ini dikenal dengan sebutan dekke si tiho atau "ikan suci" karena penangkapan dan penggunaannya memiliki aturan sakral tertentu.
Perubahan terjadi seiring berkembangnya budidaya ikan mas di Sumatera pada awal abad ke-20.
Ikan mas mulai menggantikan ikan jurung dalam masakan arsik, khususnya di wilayah Padang Sidempuan dan Bukittinggi.
Sejak itu, ikan arsik berkembang menjadi salah satu simbol penting dalam ritual Batak, seperti pernikahan, pesta tujuh bulan kehamilan (mambosuri), mangupa, hingga pembaptisan anak.
Secara bahan, ikan arsik diolah dengan beragam rempah khas, terutama andaliman, rempah lokal Sumatera Utara yang memiliki cita rasa pedas dan getir dengan aroma khas.
Ikan biasanya masih hidup saat diolah, menegaskan simbol kesegaran dan penghormatan terhadap bahan makanan.
Dalam tradisi Batak, ikan arsik disajikan utuh, dari kepala hingga ekor, termasuk sisiknya, sebagai lambang keutuhan hidup.
Penyajian menghadap penerima hidangan dan jika lebih dari satu ekor, disusun sejajar, dikenal sebagai dekke si mundur, simbol harapan agar keluarga penerima dapat hidup selaras dan sejalan.
Hidangan ini mencerminkan keterkaitan erat antara kuliner, spiritualitas, dan sistem sosial Batak Toba.