ASAHAN— Di balik gemulai gerakan yang anggun dan irama musik Melayu yang memukau, Tari Gubang bukan sekadar seni pertunjukan.
Lebih dari itu, tarian ini menyimpan cerita panjang tentang sejarah, spiritualitas, dan identitas masyarakat pesisir Tanjungbalai dan Asahan, Sumatera Utara.
Tari Gubang adalah simbol dari hubungan yang erat antara manusia, laut, alam, dan Sang Pencipta.
Baca Juga: OTK Tusuk Warga di Padangsidimpuan, Polisi Buru Pelaku yang Melarikan Diri Tari Gubang lahir dan tumbuh di wilayah Tanjungbalai dan Asahan yang dulunya merupakan satu kesatuan daerah.
Kini, ia telah menjadi simbol kebudayaan Melayu yang hidup dan berkembang, diwariskan secara turun-temurun sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga kelestariannya.
Pada tahun 2017, pemerintah Indonesia resmi menetapkan Tari Gubang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Penetapan ini menjadi bukti bahwa Tari Gubang tidak hanya penting bagi masyarakat lokal, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia.
Asal-Usul Tari Gubang dan Maknanya
Menurut Samsuriati, seorang pelestari seni Tari Gubang, tarian ini pada awalnya bukan sekadar hiburan.
"Tari Gubang berawal dari ritual sakral yang dipercaya oleh masyarakat Melayu Tanjungbalai-Asahan sebagai cara untuk memohon perlindungan dari penyakit dan gangguan gaib," jelas Samsuriati, saat ditemui di lokasi pertunjukan, Minggu (11/1).
Ritual tersebut melibatkan properti seperti dupa, kemenyan, tombak, mayang pinang, dan air tepung tawar yang dipercikkan untuk menolak bala.
Tari Gubang menggambarkan proses pengobatan yang dilakukan oleh tabib atau dukun dengan berbagai gerakan khas yang penuh simbolisme.