MEDAN — Festival Solu Bakkara digelar di Pelabuhan Baktiraja, Desa Marbun Toruan, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, pada 30–31 Desember 2025.
Kegiatan ini tidak hanya menampilkan atraksi budaya, tetapi juga membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan Danau Toba.
Di kawasan Baktiraja dan Bakkara, solu—perahu tradisional—bukan sekadar artefak budaya, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.
Baca Juga: Tapanuli Selatan Dilanda Banjir Lagi, Bupati Gus Irawan Desak Normalisasi Sungai Solu digunakan sebagai alat kerja, simbol kebersamaan, sekaligus identitas komunitas.
Direktur Eksekutif Hariara Institute, Barita Lumbanbatu, mengatakan Festival Solu dirancang agar masyarakat terlibat aktif, bukan sekadar menjadi penonton.
"Festival ini adalah cara merawat dua hal sekaligus, warisan budaya dan ekosistem Danau Toba," ujarnya, Minggu (4/1/2026).
Rangkaian kegiatan festival meliputi diskusi publik, latihan dan atraksi solu, pertunjukan seni budaya, serta aksi lingkungan.
Salah satu aksi nyata yang dilakukan adalah penebaran 2.000 bibit ikan air tawar di Danau Toba.
Dalam diskusi, nelayan menyuarakan kekhawatiran terhadap menurunnya hasil tangkapan ikan.
Simanullang, nelayan Desa Sinambela, meminta perhatian serius terhadap kesejahteraan nelayan dan kondisi ekosistem danau.
Isu perubahan kualitas air dan sampah plastik di pesisir turut menjadi perhatian.
Wakil Bupati Humbang Hasundutan, Yunita Rebecca Marbun, menegaskan bahwa festival ini harus dipahami sebagai gerakan bersama.