BANDA ACEH – Festival Gerakan Kebudayaan Indonesia (GAYAIN) Aceh 2025 resmi dibuka Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Senin (24/11).
Perhelatan tiga hari ini menegaskan Aceh sebagai pusat seni Islami Nusantara dan menjadi ruang penting bagi pelestarian budaya lokal.
Menbud Fadli menekankan bahwa festival ini bukan sekadar seremoni, tetapi upaya nyata untuk menguatkan tradisi, kreativitas, dan kolaborasi lintas komunitas.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Bener Meriah, BMKG Tegaskan Akibat Aktivitas Sesar Aktif "Saya mengapresiasi semangat gotong royong seluruh elemen Aceh. Festival ini bukti kolaborasi pemerintah, sekolah, komunitas, dan generasi muda dalam menjaga gawang kebudayaan," ujar Fadli.
Fadli menyoroti modal besar Aceh sebagai titik temu budaya Islami yang berpadu dengan keragaman Nusantara.
Tradisi Seudati, shalawat, dan seni lisan Aceh menjadi contoh kekayaan budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, menekankan pentingnya identitas budaya Aceh yang melekat pada nilai-nilai Islam.
Ia menyebut Festival GAYAIN sebagai wadah pelestarian syair, tari, musik etnik, dan tradisi lisan warisan leluhur.
Festival berlangsung 24–26 November 2025, menampilkan musikalisasi puisi, tari tradisional, pembacaan Sajak Nusantara, dan Garapan Ansamble Musik Etnik Kolaborasi.
Sejumlah sanggar dan seniman lokal ikut tampil, antara lain Sanggar Saleum, Sanggar Cit Ka Geunta, Sukamosa, HNS, serta Harmoni of Banda Aceh.
Pembukaan ditandai dengan penabuhan rapai oleh Menbud dan jajaran, diikuti Tari Kolosal kolaborasi Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang melibatkan 400 siswa dari berbagai sekolah.
Wali Kota Banda Aceh turut membacakan sajak "Cakra Donya".