MEDAN, – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menegaskan lima komitmen strategis dalam pelestarian dan penguatan budaya Melayu.
Langkah ini sekaligus menunjukkan kesiapan Sumut untuk berperan aktif dalam diplomasi budaya nasional.
Penegasan disampaikan Wakil Gubernur Sumut, Surya, saat menerima kunjungan Tim Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Medan, Senin (17/11).
Baca Juga: Kemendagri Apresiasi Langkah Cepat Pemprov Sumut , Inflasi Turun dari 5,32% ke 4,97%! "Sebagai provinsi dengan warisan peradaban Melayu yang kuat, kami berkomitmen menjadi bagian aktif dalam diplomasi budaya nasional. Lima komitmen ini menjadi prioritas kami," kata Surya.
-Pelestarian bahasa dan dialek Melayu – Mendukung pendokumentasian, revitalisasi, serta penguatan dialek Melayu pesisir dan ragam bahasa lokal sebagai aset linguistik Sumut.
-Penguatan kurikulum bahasa dan budaya Melayu – Mendorong sekolah dan perguruan tinggi memperkuat pembelajaran bahasa, sejarah, dan sastra Melayu baik sebagai muatan lokal maupun kajian ilmiah.
-Kolaborasi akademik dan riset internasional – Menyambut kerja sama riset, pertukaran akademik, dan kolaborasi ilmiah dengan lembaga bahasa dan universitas negara serumpun.
-Pengembangan pariwisata budaya Indonesia–Melayu – Memperkuat destinasi sejarah seperti Istana Maimun, Masjid Raya al-Mashun, dan kawasan Kesultanan Deli sebagai heritage tourism berdaya saing global.
-Penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya Melayu – Mendorong produk seni, busana, kuliner, dan kriya Melayu modern agar berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja.
Kunjungan BKSAP DPR RI ke Sumut menindaklanjuti deklarasi Asosiasi Anggota Parlemen Berbahasa Indonesia-Melayu, meliputi negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Brunei Darussalam.
Ketua BKSAP DPR RI, Mardani Ali Sera, menegaskan penguatan kerangka kerja agar Bahasa Indonesia-Melayu dapat menjadi bahasa forum internasional, khususnya di ASEAN.
"Target kami dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan adalah meneguhkan Bahasa Indonesia-Melayu sebagai bahasa persatuan di parlemen ASEAN," ujarnya.