JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkap perkembangan infrastruktur internet Indonesia. Hingga kuartal I 2026, cakupan layanan 4G telah mencapai 98,96 persen berdasarkan populasi, sementara jaringan 5G masih berada di tahap awal dengan cakupan sekitar 2,38 persen wilayah.
Meutya mengatakan pemerintah bersama penyelenggara telekomunikasi terus memperluas pembangunan infrastruktur digital, termasuk jaringan fiber optik yang kini mencapai lebih dari 1,19 juta kilometer.
Rinciannya, jaringan fiber optik laut atau Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) mencapai 131.325,99 kilometer. Sementara jaringan fiber optik darat mencapai 1.061.727,57 kilometer.
Baca Juga: Video Demo Lama Diedit Ulang, Menkomdigi Ungkap Modus Hoaks Jelang HUT RI Jaringan tersebut menghubungkan berbagai wilayah Indonesia, mulai dari antarpulau hingga kota, kabupaten, kecamatan dan desa.
"Dengan cakupan tersebut, infrastruktur fiber optik kini telah menjangkau 53.382 desa atau 63,79 persen dari 83.687 desa di Indonesia," kata Meutya, Senin (24/8/2026).
Selain jaringan utama, pemerintah juga membangun Optical Distribution Point (ODP) sebagai titik pembagi sinyal fiber optik sebelum koneksi diteruskan ke pelanggan.
Hingga saat ini, tercatat 2.712.813 titik ODP telah terpasang. Infrastruktur tersebut disebut telah mencakup sekitar 43.233 desa atau 51,66 persen dari total desa di Indonesia.
"Dengan ODP tersebut, setara dengan 51,66 persen (43.233 desa) dari 83.687 desa di Indonesia yang telah tercover untuk menyebarkan sinyal optik ke pelanggan," ujar Meutya.
Di sektor jaringan seluler, pembangunan 4G menunjukkan cakupan yang jauh lebih luas. Hingga kuartal I 2026, layanan 4G telah menjangkau 98,96 persen populasi atau sekitar 267 juta jiwa.
Namun, jika dihitung berdasarkan luas wilayah, cakupan 4G masih sekitar 54,23 persen atau setara dengan 1,03 juta kilometer persegi.
Sementara itu, jaringan 5G masih dalam tahap pengembangan sejak pertama kali dikomersialkan di Indonesia pada Mei 2021.
"Adapun jaringan 5G masih dalam tahap awal pengembangan, dengan cakupan sekitar 2,38 persen wilayah, namun sudah mampu melayani sekitar 109 juta jiwa, menunjukkan langkah awal yang positif menuju transformasi digital berkecepatan tinggi di seluruh pelosok Indonesia," kata Meutya.