JAKARTA – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), muncul konsep baru yang disebut "AI Sandwich" sebagai pendekatan agar manusia tetap menjadi pengendali utama dalam proses kerja berbasis teknologi.
Konsep ini menggambarkan model kerja di mana manusia tetap berada di awal dan akhir proses, sementara AI hanya berperan di bagian tengah, seperti isian dalam sebuah sandwich.
Artinya, manusia memulai pekerjaan dengan memberikan konteks, arah, serta ide awal. Setelah itu, AI membantu mengolah dan menyusun hasil. Namun di tahap akhir, manusia kembali mengambil alih untuk melakukan evaluasi, koreksi, dan memastikan hasil sesuai tujuan.
Baca Juga: Menkes Dorong Penguatan Kerja Sama Kesehatan dengan Tiongkok: AI dan Penanggulangan TB Jadi Prioritas Konsep "AI Sandwich" pertama kali dipopulerkan oleh podcaster Nathaniel Whittemore dalam episode AI Daily Brief. Gagasan ini kemudian banyak dibahas di berbagai forum teknologi, termasuk dalam ulasan Forbes.
Sejumlah pakar menilai pendekatan ini penting untuk menjaga keseimbangan antara otomatisasi dan kendali manusia. Meski AI semakin canggih, peran manusia dianggap tetap krusial terutama dalam hal konteks, kreativitas, serta penilaian akhir.
Pakar juga mengingatkan bahwa membiarkan AI bekerja tanpa keterlibatan manusia sejak awal dapat membuat hasil menjadi bias dan membatasi proses berpikir kritis. Sebaliknya, jika manusia tetap aktif di awal dan akhir proses, AI dapat menjadi alat kolaborasi yang efektif.
Konsep ini juga dinilai bukan hal yang sepenuhnya baru, karena manusia sejak lama sudah "mengalihdayakan" sebagian proses berpikir ke teknologi, mulai dari kalkulator hingga ponsel pintar. Namun, perbedaannya kini terletak pada tingkat kompleksitas pekerjaan yang dialihkan ke AI.
Dengan munculnya konsep AI Sandwich, para ahli menekankan pentingnya menjaga keseimbangan: AI boleh membantu, tetapi manusia tetap harus memegang kendali utama.*
(k/dh)