JAKARTA – Keputusan Meta untuk menghapus enkripsi end-to-end (E2EE) pada fitur direct message (DM) di Instagram mulai 8 Mei 2026 memicu kekhawatiran serius di kalangan pakar keamanan siber.
Langkah ini memungkinkan platform untuk mengakses, memproses, hingga menganalisis isi percakapan pengguna, yang sebelumnya terlindungi penuh.
Pakar keamanan dari Surfshark, Nikodemas Zaliauskas, menilai kebijakan ini sebagai "lampu kuning" terhadap komitmen privasi perusahaan teknologi.
Baca Juga: Presiden Prabowo Bakal Resmikan Pabrik EV VKTR di Magelang Hari Ini, Dorong Transformasi Transportasi Nasional Ia memperingatkan bahwa perubahan ini bisa menjadi preseden bagi layanan lain di ekosistem Meta, termasuk Messenger.
"Jika enkripsi bisa dicabut hari ini, pengguna perlu mempertanyakan apakah layanan lain akan mengikuti langkah serupa," ujar Zaliauskas.
Perubahan kebijakan ini sejalan dengan semakin integrasinya kecerdasan buatan (AI) dalam layanan pesan instan.
Fitur seperti terjemahan real-time, ringkasan percakapan, hingga asisten berbasis AI membutuhkan akses langsung ke isi pesan untuk berfungsi optimal.
Dengan demikian, percakapan pengguna bisa menjadi "bahan bakar" bagi sistem AI Meta.
Di tengah kekhawatiran ini, sejumlah alternatif aplikasi pesan dengan perlindungan privasi tinggi kembali mendapat sorotan.
Signal tetap menjadi standar emas berkat enkripsi kuat dan minim pengumpulan data pengguna.
iMessage menawarkan perlindungan kriptografi solid untuk pengguna Apple, sementara Telegram menyediakan mode "Secret Chat" dengan enkripsi end-to-end, meski harus diaktifkan secara manual.
Menariknya, WhatsApp, yang juga dimiliki Meta, masih mempertahankan enkripsi end-to-end sebagai default.