JAKARTA – Di tengah laju pesat perkembangan Artificial Intelligence (AI), Indonesia berada di persimpangan krusial antara kemajuan dan ketergantungan teknologi.
Mengantisipasi risiko sekaligus memaksimalkan peluang, dua intelektual Indonesia, Kun Abyoto Wardana dan Rahadi Wangsapermana (Rully), tampil mengambil peran strategis dalam membangun literasi dan diseminasi AI di Tanah Air.
Kun, yang dikenal sebagai "anak ajaib" karena menempuh pendidikan tinggi sejak usia 12 tahun, kini menjabat Dekan di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN).
Baca Juga: Prabowo Siap Jadi Mediator Konflik Israel-Iran, GREAT Institute Sambut Positif Sementara Rully, pengamat Perang Asimetris sekaligus CEO PT Royal Monarki Investama, memimpin integrasi kerja sama teknologi strategis antara Indonesia dan Tiongkok di sektor dirgantara, maritim, satelit, dan telekomunikasi.
Keduanya baru-baru ini menghadiri kerja sama dengan Nanning Vocational and Technical University di Tiongkok, perguruan tinggi yang memiliki School of Artificial Intelligence terkemuka.
Agenda utama kunjungan ini mencakup pertukaran pengajar, pengiriman generasi muda Indonesia belajar langsung di pusat pengembangan teknologi, serta membangun ekosistem AI yang berorientasi pada kepentingan strategis bangsa.
"AI bukan sekadar komoditas atau solusi instan. Tanpa fondasi etika dan literasi, AI bisa memperlebar kesenjangan sosial, mempercepat disinformasi, bahkan menjadi alat kontrol yang berbahaya," ujar Kun dalam keterangan persnya.
Rully menambahkan, pendekatan ini menegaskan pentingnya membangun kedaulatan teknologi Indonesia: "Bangsa yang menguasai AI akan menentukan masa depan sendiri, bukan dikendalikan oleh teknologi asing."
Inisiatif ini menandai pergeseran penting dalam pembangunan kapasitas digital nasional: dari sekadar adopsi teknologi menuju pemahaman strategis yang melibatkan publik. Indonesia, kata mereka, hanya bisa memetik manfaat AI jika masyarakatnya siap secara kritis dan etis.
Dengan langkah ini, Kun dan Rully berharap generasi muda Indonesia bukan hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi subjek yang mampu mengendalikan masa depan digital bangsa.
Dalam konteks global, AI akan mengikuti tangan yang menggenggamnya—apakah sebagai motor kemajuan peradaban, atau alat yang memperdalam ketergantungan.*
(dh)