MEDAN – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sekaligus Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menyoroti krisis kebenaran di era digital yang kian kompleks.
Hal itu disampaikannya dalam acara pengukuhan guru besar di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Senin (16/2/2026).
Dalam sambutannya, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh putus asa dalam mencari kebenaran di tengah tantangan era post-truth dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Baca Juga: DPC Gerindra Padangsidimpuan Rayakan HUT ke-18 dengan Bagikan Ratusan Sembako, Targetkan Rebut Kursi DPRD 2030 "Meski demikian, kita tidak boleh putus asa dalam mencari kebenaran," ujarnya.
Mengutip buku The Future of Truth karya Werner Herzog, ia menyebut dunia saat ini semakin sulit membedakan fakta dan pabrikasi, kebenaran dan hoaks.
Menurutnya, di era post-truth, kebenaran tak lagi ditentukan oleh ilmu pengetahuan atau hukum, melainkan oleh popularitas dan viralitas.
"Viralitas sendiri bisa dikerjakan oleh robot," katanya.
Abdul Mu'ti juga menyinggung dampak kemajuan teknologi dan AI terhadap kehidupan manusia.
Ia menilai perkembangan teknologi membuat sebagian manusia merasa semakin berkuasa dan perlahan menjauh dari nilai-nilai spiritual.
"Di era ini agama selalu menghadapi tantangan, salah satunya ateisme. Kemajuan teknologi membuat manusia merasa dirinya berkuasa, padahal itu kehendak Tuhan," ujarnya.
Menurut dia, kemajuan teknologi juga berpotensi melahirkan kesepian dan kekosongan makna.
Karena itu, kehadiran tokoh agama dan cendekiawan tetap diperlukan sebagai penuntun moral.