MEDAN — Aroma khas yang tercium saat hujan turun ternyata bukan berasal dari air itu sendiri.
Fenomena yang dikenal dengan istilah petrichor ini merupakan hasil interaksi kompleks antara tanah, tumbuhan, dan mikroorganisme.
Petrichor berasal dari dua kata Yunani: petra yang berarti batu, dan ichor, cairan yang mengalir dalam tubuh para dewa.
Baca Juga: Prabowo Bantah Tuduhan Ingin Jadi Diktator: Saya Bersumpah Cinta Tanah Air Sejak Muda Secara ilmiah, aroma ini muncul ketika air hujan mengenai tanah kering yang sebelumnya mengandung senyawa organik geosmin.
Geosmin diproduksi oleh bakteri tanah Actinobacteria dan bertanggung jawab atas aroma tanah basah yang begitu kuat.
Selain geosmin, minyak dari tumbuhan dan batuan yang tersimpan di pori-pori tanah ikut terlepas saat hujan.
Gabungan kedua senyawa ini menciptakan campuran aroma kompleks yang menenangkan dan menimbulkan rasa nostalgia.
Menurut penelitian, petrichor juga memengaruhi sistem limbik di otak, bagian yang mengatur emosi dan memori.
Inilah sebabnya aroma hujan kerap membuat manusia merasa tenang dan damai, seakan memberi kesempatan bagi bumi untuk "bernafas kembali" setelah kemarau panjang.
Ahli menyarankan, ketika hujan pertama turun, ada baiknya berhenti sejenak dari aktivitas sehari-hari dan menghirup aroma tersebut.
Sensasi ini tidak hanya menyegarkan secara fisik, tetapi juga menenangkan mental.
Fenomena petrichor adalah salah satu contoh bagaimana ilmu fisika, kimia, dan kehidupan alami bumi bekerja bersama, menciptakan pengalaman sensorik sederhana namun menakjubkan bagi manusia.*