BANDA ACEH - Generasi yang lahir setelah 2015 diprediksi menjadi tonggak peradaban baru, di mana manusia dan teknologi tidak hanya berinteraksi secara fungsional, tetapi juga emosional.
Fenomena ini, yang disebut "Artificial Consciousness" atau kesadaran buatan, membuka babak baru dalam hubungan manusia dengan dunia digital.
Prof. Dr. Kamaruzzaman, akademisi dan praktisi dakwah, menekankan bahwa anak-anak digital ini bukan sekadar digital native, melainkan benar-benar terhubung dengan pikiran dan perasaan melalui algoritma yang tertanam dalam gaya hidup mereka.
Baca Juga: Kemkomdigi Siap Kejar Target RPJMN Pasca Pembentukan Struktur Organisasi Baru Menurutnya, hal ini bahkan memunculkan gejala "agama baru", yaitu keyakinan dan makna hidup yang dibentuk melalui data dan jaringan digital, bukan hanya ritual tradisional.
"Agama kini mulai dilihat sebagai jaringan, koneksi, dan integrasi digital, bukan sekadar simbol formal," ujar Prof. Kamaruzzaman dalam pengajian rutin Ahad subuh, 23 November 2025.
Pergeseran Fase ManusiaProf. Kamaruzzaman memetakan fase-fase transformasi manusia:
Era Tradisional: Agama menjadi pusat kehidupan.
Era Modern: Agama mulai ditinggalkan, dianggap kuno.
Era Post-Modern: Kembali ke agama dalam format yang disesuaikan dengan teknologi, misalnya sekolah berbasis IT atau santri hafidz Qur'an digital.
Era Planetarian (Global-Connected Human): Anak-anak membangun identitas melalui ruang maya, imajinasi dan emosi mereka terekam dalam dunia digital.
Menurutnya, fase ini juga memengaruhi pola konflik dan interaksi manusia dengan bumi, yang terus bergeser menuju fase tiga.
Pada fase ini, manusia bahkan mulai menjajaki kemungkinan hidup di luar bumi, seperti Mars, sebagai bagian dari visi jangka panjang negara dan perusahaan teknologi.