JAKARTA — Kotak kecil bertuliskan "I'm Not a Robot" yang kerap muncul di berbagai situs web sering dianggap sekadar formalitas.
Padahal, di balik tampilan sederhana itu bekerja sebuah sistem keamanan canggih bernama reCAPTCHA, teknologi besutan Google yang dirancang untuk menyaring pengguna manusia dari bot otomatis.
Sistem ini digunakan untuk menahan serangan spam, mencegah penyalahgunaan formulir daring, hingga meredam percobaan login massal yang dilakukan program otomatis.
Baca Juga: Usai Kasus Chromebook, KPK Isyaratkan Nadiem Makarim Kembali Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Google Cloud Berbeda dari CAPTCHA generasi awal yang mengandalkan tulisan acak atau soal sederhana, reCAPTCHA memanfaatkan analisis perilaku dan kecerdasan buatan.
Menurut penjelasan sejumlah penyedia layanan keamanan siber, reCAPTCHA menilai aktivitas pengguna sejak sebelum interaksi dilakukan.
Pada versi populer "I'm Not a Robot", yang diukur bukan hanya klik pada kotak, tetapi pola gerakan kursor saat mendekati elemen tersebut.
Gerakan manusia umumnya memiliki ketidakberaturan halus yang sulit ditiru bot.
Selain itu, sistem turut membaca cookie browser, riwayat interaksi, hingga pola navigasi di halaman.
Jika algoritma masih ragu, pengguna akan diberi tantangan tambahan seperti memilih gambar kendaraan, lampu lalu lintas, atau objek lain—tes yang masih sulit dipecahkan mesin.
Pada versi terbaru, yakni reCAPTCHA v3 dan Enterprise, tidak ada interaksi sama sekali.
Google menerapkan skor kepercayaan antara 0,0–1,0 berdasarkan perilaku pengguna. Semakin natural gerakan dan aktivitas yang terekam, semakin tinggi skor yang menunjukkan pengguna adalah manusia.
CAPTCHA klasik hanya mengandalkan tantangan visual atau teks yang mudah dikerjakan manusia.