JAKARTA — Alam sering menjadi laboratorium terbaik bagi inovasi manusia.
Dari terbangnya burung hingga struktur rayap, ilmuwan mempelajari alam untuk menciptakan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Disiplin yang menekuni adaptasi konsep alam ke teknologi dikenal sebagai biomimetika, yang telah melahirkan sejumlah inovasi modern, dilansir dari World Economic Forum (WEF) dan BBC Science Focus.
Baca Juga: Olimpiade Madrasah Indonesia 2025: Banten Jadi Tuan Rumah, Madrasah Raih Prestasi Gemilang di Sains dan Riset -Kereta Shinkansen dikenal sangat cepat, tetapi semula menimbulkan polusi suara saat keluar dari terowongan.
Solusinya datang dari alam: paruh burung kingfisher yang mampu menyelam ke air tanpa cipratan berlebih.
Moncong kereta diubah menyerupai bentuk ini, sehingga suara ledakan sonik berkurang, kecepatan naik 10 persen, dan konsumsi listrik hemat hingga 15 persen.
-NASA meniru pola mikroskopis kulit hiu untuk membuat film 'riblets'.
Teknologi ini mengurangi gesekan dan mencegah mikroorganisme menempel, bermanfaat untuk kapal laut, pesawat, kapal selam, dan pakaian renang.
-Pada 1941, George de Mestral menemukan inspirasi perekat dari duri yang menempel di bulu anjing.
Dengan konsep kait mikroskopis, terciptalah Velcro, yang kini umum dipakai di pakaian, tas, dan aksesori.
-Layar Mirasol dari Qualcomm meniru sayap kupu-kupu yang memantulkan cahaya.
Hasilnya, e-reader ini bisa dibaca di bawah sinar matahari terang dan hemat baterai.