BANDUNG– Program Studi Hubungan Internasional Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) kembali menegaskan perannya di kancah akademik internasional.
Ketua Program Studi sekaligus Dosen Hubungan Internasional, Nadirah, S.Sos., M.A., menjadi narasumber dalam kegiatan Conversatorio bertema "Legado de la Conferencia de Bandung" yang diselenggarakan secara daring oleh Universidad Nacional de Quilmes (UNQ), Argentina, pada Rabu (8/10/2025).
Acara dibuka oleh Rektor UNQ, Mg. Alfredo Alfonso, dan menghadirkan pembicara utama, Duta Besar Republik Indonesia untuk Argentina, Sulaiman Syarif, serta Prof. Ignacio Ortíz Vila dari UNQ.
Baca Juga: Sidang Praperadilan Nadiem Makarim: Kejagung Bawa 90 Bukti dan Satu Ahli ke PN Jaksel Dalam sambutannya, Dubes Sulaiman menekankan pentingnya relevansi Semangat Bandung dalam menghadapi dinamika global saat ini, sekaligus menyoroti peran generasi muda dalam menjaga nilai-nilai solidaritas, perdamaian, dan kerja sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation).
Nadirah, dalam paparan bertajuk "Relevansi Nilai-Nilai Bandung dalam Diplomasi Global Kontemporer", menegaskan bahwa prinsip-prinsip Konferensi Asia-Afrika tahun 1955—meliputi kesetaraan, penghormatan terhadap kedaulatan, dan penyelesaian damai konflik—masih sangat relevan di era global saat ini.
"Prinsip-prinsip Bandung menjadi fondasi penting bagi kerja sama internasional yang lebih adil dan inklusif. Di tengah krisis global dan dinamika geopolitik yang kompleks, nilai-nilai ini perlu terus diperjuangkan, termasuk dalam konteks Asia Tenggara," ujar Nadirah.
Conversatorio ini merupakan inisiatif akademik yang merefleksikan warisan Konferensi Bandung sebagai tonggak sejarah gerakan non-blok dan solidaritas global negara-negara berkembang.
Forum ini diikuti oleh akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai negara. Untuk menambah kehangatan suasana, peserta juga menikmati hidangan khas Indonesia yang disajikan oleh KBRI Buenos Aires, sekaligus mempromosikan budaya Indonesia di kancah internasional.
Keikutsertaan Nadirah dalam forum ini sekaligus memperkuat diplomasi akademik dan kerja sama internasional Program Studi Hubungan Internasional Universitas Moestopo dengan UNQ.
Partisipasi aktif dalam forum internasional ini membuka peluang kolaborasi riset, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta kegiatan akademik bersama di masa mendatang.
"Langkah ini menjadi bukti komitmen Universitas Moestopo dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, diplomasi akademik, dan kerja sama global, sejalan dengan implementasi Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat global," tutup Nadirah.
Dengan keterlibatan aktif di forum internasional, Universitas Moestopo menegaskan posisinya sebagai kampus berwawasan global yang menekankan perdamaian, solidaritas, dan keadilan internasional, nilai-nilai yang diwariskan Semangat Bandung 1955.*