JAKARTA- Meningkatnya ancaman kejahatan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti deepfake menjadi perhatian serius di kawasan Asia Tenggara. Dalam forum ASEAN for the Peoples Conference (AFPC) bertajuk "How to Protect Our People from Rising Threats of Cyber Crimes and Online Scams", Sabtu (4/10/2025), General Manager Tools for Humanity Indonesia, Wafa Taftazani, menegaskan perlunya ASEAN memperkuat sistem kepercayaan digital yang aman bagi masyarakat.
"AI kini membuat siapa pun bisa berpura-pura menjadi orang lain," ujar Wafa. Ia mencontohkan modus penipuan daring (phishing) di mana pelaku menyamar sebagai anggota keluarga menggunakan foto dan suara yang tampak autentik.
Menurutnya, kini bahkan panggilan video dari seseorang yang terlihat dan terdengar seperti orang tua belum tentu benar-benar berasal dari mereka.
Baca Juga: Momen 100 Karangan Bunga Warnai Ultah Sri Mulyani Jadi Sorotan, Seruan Dosen untuk Pendidikan yang Lebih Adil Wafa menjelaskan bahwa lanskap kejahatan digital kini berubah dalam dua bentuk utama — pertama, kemampuan deepfake untuk meniru wajah dan suara secara real-time, dan kedua, penggunaan AI untuk mengoperasikan ribuan akun palsu sekaligus.
"Satu orang bisa mengendalikan ribuan akun untuk menipu jutaan orang. Mungkin hanya seribu yang tertipu, tapi dampaknya tetap besar bagi ekonomi dan masyarakat," tegasnya.
Ia menilai bahwa kepercayaan merupakan fondasi utama ekosistem digital ASEAN yang kini mulai tergerus akibat maraknya penipuan berbasis AI. "Bagaimana kita bisa membangun kepercayaan jika kita bahkan tidak yakin dengan siapa kita berinteraksi di dunia maya?" katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Tools for Humanity, perusahaan yang didirikan oleh Sam Altman (pendiri OpenAI), memperkenalkan World ID, protokol privasi terbuka yang memungkinkan verifikasi identitas manusia tanpa harus menyerahkan data pribadi.
Melalui perangkat fisik bernama Orb, pengguna cukup menjalani pemindaian wajah sekali untuk memastikan bahwa dirinya adalah manusia unik. Setelah verifikasi, foto akan dihapus dan pengguna memperoleh kode terenkripsi yang bisa digunakan untuk login di berbagai platform digital.
"Ini bukan pengganti proses KYC di sektor keuangan, tetapi langkah untuk melindungi platform dari akun palsu dan bot berbasis AI," ujar Wafa.
Ia optimistis bahwa adopsi teknologi seperti World ID di kawasan ASEAN akan memperkuat kepercayaan digital lintas negara dan menciptakan ekosistem daring yang lebih aman.
"Dengan cara ini, kita bukan hanya melindungi pengguna dari penipuan, tapi juga menumbuhkan kembali rasa saling percaya antarwarga ASEAN," pungkasnya.*
(met/dv10)