JAKARTA- Laptop yang tidak dimatikan dan tetap tercolok ke stop kontak ternyata tetap menyedot daya listrik, dengan biaya yang bisa mencapai hampir Rp 300 ribu dalam setahun.
Daya tahan baterai yang semakin kuat dan desain elektronik modern membuat banyak orang terbiasa tidak mematikan laptop, cukup menutup layar dan membiarkannya dalam kondisi sleep atau standby.
Pengukuran dilakukan dengan mengisi penuh daya laptop, kemudian menutup layar dan mencabut kabel pengisi daya, hasilnya daya baterai hanya berkurang 1 persen setelah seharian.
Baca Juga: PLN UID Sumut Tinjau PLTU Pangkalan Susu untuk Pastikan Keandalan Listrik Dengan perangkat pengukur listrik bernama Kill A Wat, ditemukan laptop dalam kondisi sleep yang tetap tercolok selama 15 jam hanya menghabiskan 0,02 kWh listrik.
Berdasarkan tarif listrik rumah tangga besar (R-3/TR) daya 6.600 VA ke atas di Indonesia sebesar Rp 1.699,53 per kWh, laptop dalam kondisi tersebut hanya menghabiskan Rp 34 selama 15 jam.
Jika dikalikan setahun, maka total biaya listrik yang tersedot dari laptop dalam kondisi sleep dan tercolok ke stop kontak bisa mencapai Rp 298 ribu.
Sebagai perbandingan, lampu pijar 60 watt bisa menghabiskan 0,06 kWh listrik per jam, sehingga mengganti lampu pijar dengan lampu LED dinilai lebih signifikan untuk menghemat listrik daripada sekadar mematikan laptop.
Meski konsumsi listrik laptop relatif kecil, para ahli tetap menyarankan agar laptop dimatikan secara rutin, terutama jika ditinggalkan berhari-hari atau berminggu-minggu.
Laptop gaming yang hanya digunakan pada akhir pekan juga sebaiknya dimatikan saat hari kerja agar kinerja perangkat tetap terjaga.
Selain itu, mematikan dan menyalakan kembali laptop dapat menghilangkan bug yang menumpuk di memori saat perangkat hanya dalam kondisi sleep, karena bug yang tidak dibersihkan bisa membuat sistem tidak stabil.
Dengan demikian, meskipun biaya listrik akibat laptop sleep tidak signifikan, kebiasaan mematikan perangkat secara berkala tetap penting demi keawetan dan stabilitas sistem.
(cnb/dv44)