JAKARTA — Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko mengatakan hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto pada masa lalu ibarat Tom and Jerry.
Meski kini mendukung Prabowo, mantan politikus PDI Perjuangan itu menegaskan tidak memiliki alasan personal maupun moral untuk berterima kasih kepada mantan rival politiknya tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Budiman dalam acara relawan Prabowo Subianto di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Oktober 2026.
Baca Juga: Wagub Sumut Surya Hadiri Rakornas TPAKD, Dorong Akses Keuangan bagi UMKM dan Masyarakat "Saya ini dalam posisi kayak Tom and Jerry dengan Pak Prabowo puluhan tahun yang lalu. Saya tidak punya alasan secara personal untuk berterima kasih pada beliau. Saya tidak punya alasan personal. Saya tidak punya alasan moral untuk secara personal, secara emosional mengatakan, 'terima kasih, Pak Prabowo'," ujar Budiman.
Meski memiliki sejarah hubungan yang berseberangan dengan Prabowo, Budiman menyatakan dukungannya kepada Prabowo sebagai calon presiden pada 2024.
Ia mengatakan keputusan tersebut didasarkan pada pertimbangan ideologi, geopolitik, dan geostrategi, bukan hubungan pribadi.
"Tetapi, pada malam 1 Suro di tanggal, tahun 2023, malam 1 Suro, malam Tahun Baru Islam, saya datang ke rumah Pak Prabowo dan menyatakan dukungan. Alasannya ideologi. Alasannya geopolitis. Alasannya geostrategis. Sederhana saja," tuturnya.
Budiman menjelaskan dukungannya terhadap Prabowo berkaitan dengan situasi geopolitik dunia yang dinilainya semakin bergejolak.
Menurut dia, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu menjalin komunikasi dengan para pemimpin negara lain tanpa menunjukkan sikap rendah diri.
Ia membandingkan kemampuan Prabowo dalam hubungan internasional dengan dua kandidat lain pada Pilpres 2024, yakni Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo.
"Siapa dari calon-calon presiden ini yang ketika bicara dengan Xi Jinping itu bisa tepuk-tepukkan punggung dengan santai tanpa rasa minder?Siapa dari calon-calon pemimpin ini yang ketika ketemu Putin tidak bungkuk-bungkuk? Ketemu Trump ngobrol dengan santai? Siapa? Dari yang ada, dari stok yang ada, sederhana, satu (cuma Prabowo)," tegas Budiman.
Menurut Budiman, bahasa tubuh seorang pemimpin dapat berperan dalam membangun komunikasi dan meredakan ketegangan antarnegara.