JAKARTA– Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto disebut merosot hingga 9,8 persen pada Oktober 2026.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai penurunan tersebut dipengaruhi sejumlah persoalan, mulai dari tekanan ekonomi masyarakat, pelaksanaan program prioritas pemerintah, hingga penegakan hukum dan kondisi demokrasi.
Menurut Jamiluddin, penurunan tingkat keterpilihan Prabowo tidak terjadi tanpa sebab.
Baca Juga: Polemik Ijazah Gibran Tak Berakhir Usai Putusan MK, Pengamat Sebut Peta Politik 2029 Makin Terbuka Ia mengidentifikasi lima faktor yang dinilai berkontribusi terhadap merosotnya elektabilitas presiden menjelang genap dua tahun masa pemerintahannya pada 20 Oktober 2026.
"Terus melorotnya elektabilitas Prabowo Subianto tampaknya disebabkan setidaknya lima faktor," ujar Jamiluddin, Sabtu (17/10/2026).
Faktor pertama adalah kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat.
Jamiluddin menilai keluhan mengenai situasi ekonomi sehari-hari dapat memengaruhi penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
"Pertama, tekanan kondisi ekonomi masyarakat. Penilaian negatif terhadap kondisi ekonomi menjadi pemicu utama turunnya elektabilitas Prabowo. Publik merasa daya beli melemah dan situasi ekonomi sehari-hari belum sesuai harapan," jelasnya.
Faktor kedua berkaitan dengan pelaksanaan program prioritas pemerintah, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Menurut Jamiluddin, pelaksanaan dan tata kelola program-program tersebut menjadi bagian dari evaluasi publik terhadap pemerintahan Prabowo.
"Dua, kinerja program prioritas. Kritik tajam terhadap pelaksanaan program unggulan pemerintah, seperti pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Kepercayaan publik terhadap efektivitas dan tata kelola program tersebut berdampak terhadap elektabilitas Prabowo," paparnya.
Faktor ketiga adalah dinamika politik, termasuk respons pemerintah terhadap kritik masyarakat.