JAKARTA – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai sosok "pemimpin pengkhianat" yang disebut menganjurkan aksi membakar Republik Indonesia usai mengalami kekalahan politik memunculkan berbagai spekulasi.
Ucapan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak Hari Koperasi Nasional di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada Minggu (12/7/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo tidak menyebut secara langsung siapa sosok yang dimaksud.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih Diduga Berdiri di Lahan Sawah, Begini Respons Wamentan Sudaryono Pernyataan itu kemudian menjadi perhatian publik dan memunculkan beragam analisis dari pengamat politik.
Pakar Komunikasi Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Nyarwi Ahmad, menilai pernyataan Presiden Prabowo masih sangat umum sehingga sulit diarahkan kepada tokoh tertentu.
"Menurut saya itu agak susah ditebak ya," kata Nyarwi, Rabu (15/7/2026).
Nyarwi mencoba menganalisis kemungkinan sosok yang dimaksud berasal dari kelompok mantan calon presiden maupun calon wakil presiden yang pernah menjadi lawan politik Prabowo.
Namun menurutnya, kemungkinan tersebut kecil karena para mantan rival politik dinilai tidak memiliki pengaruh yang cukup besar untuk memicu situasi seperti yang disinggung Presiden.
"Yang pertama misalnya, kan kita tahu ya pasangan capres-cawapres yang dicalonkan kemarin juga menurut saya tidak punya resources maupun atau pengaruh sekuat itu," ujarnya.
Ia juga menilai para mantan kandidat, seperti Ganjar Pranowo maupun Anies Baswedan, belakangan tidak lagi aktif menyampaikan pernyataan yang bersifat provokatif.
"Ya, termasuk opini-opininya juga saya kira belakangan bahkan meredup, kan. Ganjar misalnya begitu, Anies juga begitu. Ya kan? Dan saya belum pernah melihat juga ada statement provokatif dari mantan capres-cawapres," jelasnya.
Selain mantan kandidat Pilpres, Nyarwi juga menilai kecil kemungkinan pernyataan tersebut ditujukan kepada partai politik, termasuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).