JAKARTA – Peneliti Keamanan Nasional Ulta Levenia Nababan menilai Presiden Prabowo Subianto berhasil menjaga posisi strategis Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik yang terjadi di berbagai kawasan dunia. Menurutnya, Indonesia mampu tetap aktif menjalin kerja sama internasional tanpa terjebak dalam rivalitas geopolitik yang berkembang saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Levenia dalam siniar yang ditayangkan melalui akun resmi Kementerian Pertahanan, Senin, 15 Juni 2026. Ia menilai Indonesia memiliki kemampuan diplomasi yang baik sehingga tetap dapat membangun hubungan dengan berbagai negara meski situasi global sedang tidak menentu.
"Indonesia menjadi salah satu negara yang mampu bergerak luwes di tengah kondisi global yang penuh tantangan," ujar Levenia.
Baca Juga: Presiden Jerman Kagum pada Toleransi Indonesia, Istiqlal-Katedral Jadi Simbol Kerukunan yang Disorot Ia mencontohkan sejumlah langkah diplomasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam bidang pertahanan. Salah satunya adalah komunikasi dan kerja sama yang tetap terjalin dengan berbagai negara besar, termasuk Rusia dan Amerika Serikat.
Levenia menyoroti pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang berlangsung berdekatan dengan pertemuan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan Indonesia mampu menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak secara seimbang.
Selain itu, ia juga menilai kerja sama pengembangan teknologi drone antara perusahaan nasional Republikorp dan industri pertahanan Turki sebagai langkah strategis dalam memperkuat kemampuan pertahanan nasional.
Menurut Levenia, keberhasilan membangun berbagai kerja sama internasional tidak terlepas dari hubungan yang telah dibangun Prabowo sejak menjabat Menteri Pertahanan. Hubungan tersebut dinilai menjadi modal penting dalam memperluas kemitraan strategis Indonesia di tingkat global.
Ia menjelaskan bahwa kerja sama di sektor pertahanan tidak hanya memberikan manfaat berupa pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga membuka peluang transfer teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam negeri.
Dengan adanya transfer teknologi, industri pertahanan nasional diharapkan mampu meningkatkan kemandirian dalam pengembangan teknologi militer pada masa mendatang.
Levenia juga menilai banyaknya mitra kerja sama yang dimiliki Indonesia dapat memperkuat posisi negara dalam menghadapi berbagai tantangan internasional, termasuk potensi pembatasan atau embargo alat pertahanan dari negara tertentu.
Menurutnya, strategi diplomasi yang dijalankan pemerintah saat ini menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kepentingan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia yang terus berkembang.*
(an/dh)