JAKARTA – Isu perombakan kabinet atau reshuffle di jajaran Menteri Keuangan kembali mencuat di tengah dinamika ekonomi nasional. Nama ekonom senior Chatib Basri disebut-sebut masuk dalam bursa calon pengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Menanggapi isu tersebut, Pengamat Politik Samuel F Silaen menilai persoalan utama dalam pengelolaan fiskal negara tidak terletak pada figur menteri, melainkan pada beban anggaran yang ditanggung negara.
"Persoalan utamanya bukan di orangnya, tapi pada struktur fiskalnya. Kalau beban anggaran terus membesar, siapa pun menterinya akan menghadapi tekanan yang sama," ujar Silaen dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Baca Juga: Purbaya: S&P Tak Persoalkan Program MBG dalam Penilaian Fiskal RI Ia menilai kondisi keuangan negara saat ini menghadapi tantangan akibat pola kebijakan anggaran yang dinilai semakin ekspansif. Menurutnya, hal tersebut menjadi faktor yang lebih menentukan dibanding pergantian sosok di kursi menteri.
Silaen juga menekankan bahwa arah kebijakan ekonomi berada di bawah kendali Presiden sebagai pemegang otoritas tertinggi. Karena itu, ia menilai konsistensi kebijakan di tingkat atas sangat mempengaruhi kinerja jajaran di bawahnya.
"Kalau kebijakan di tingkat atas sudah ditetapkan, maka kementerian di bawahnya akan mengikuti arah itu," katanya.
Terkait sosok Chatib Basri yang dikaitkan dengan isu pergantian Menkeu, Silaen menilai mantan Menteri Keuangan itu memiliki rekam jejak kuat di bidang ekonomi dan pasar global. Namun, ia menegaskan bahwa tantangan utama tetap berada pada struktur kebijakan fiskal nasional.
Hingga saat ini, pemerintah belum memberikan keterangan resmi terkait isu reshuffle tersebut. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut masih menjalankan tugas seperti biasa di kementerian.
Publik dan pelaku pasar masih menunggu kejelasan resmi dari pemerintah terkait benar atau tidaknya kabar pergantian di posisi strategis tersebut.*
(dh)